RI News. Beijing — Dalam dua minggu terakhir, aktivitas pesawat militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok di sekitar Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan mencatat penurunan drastis yang belum pernah terjadi sejak awal dekade ini. Data harian dari Kementerian Pertahanan Taiwan menunjukkan hanya segelintir pesawat yang terdeteksi—total tujuh unit dalam periode 14 hari—jauh di bawah angka 92 pada periode serupa tahun lalu.
Periode paling mencolok terjadi antara akhir Februari hingga awal Maret, ketika tidak ada satu pun pesawat PLA yang memasuki ADIZ Taiwan selama tujuh hari berturut-turut, diikuti jeda hampir serupa setelahnya. Baru dalam beberapa hari belakangan aktivitas kembali muncul secara sporadis, dengan lima hingga enam pesawat per hari, menandai akhir dari “kebisuan” yang menghebohkan para pengamat.
Fenomena ini bukan sekadar anomali musiman. Meskipun penurunan aktivitas udara sering terjadi selama Sidang Tahunan Dua Sesi (Two Sessions) di Beijing—pertemuan legislatif dan konsultatif terbesar Tiongkok yang berlangsung hingga pertengahan Maret—skala penurunan kali ini jauh melampaui pola historis. Analis militer regional mencatat bahwa biasanya masih ada beberapa sorti meski dalam jumlah terbatas selama periode politik sensitif tersebut.

Beberapa pakar menilai penurunan ini mungkin mencerminkan pergeseran strategi jangka panjang PLA. Tristan Tang, peneliti independen yang mengamati dinamika lintas Selat, menyatakan bahwa Tiongkok tampaknya sedang memprioritaskan pengembangan model pelatihan gabungan baru antara angkatan udara, laut, dan darat. “Aktivitas eksplorasi semacam ini cenderung dilakukan di wilayah yang lebih terpencil agar tidak mudah diamati pihak luar,” ujarnya. Hal ini bisa menjelaskan mengapa fokus sementara bergeser menjauh dari area sensitif di sekitar Taiwan.
Faktor diplomatik juga tak bisa diabaikan. Penurunan aktivitas udara bertepatan dengan persiapan kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing pada akhir Maret hingga awal April. Beberapa analis di Taipei menduga Beijing sengaja “meredam” tekanan militer untuk menciptakan suasana kondusif menjelang pertemuan tingkat tinggi tersebut. Namun, mantan pejabat pertahanan AS Drew Thompson mengingatkan bahwa isu Taiwan bukan prioritas utama bagi Trump, yang lebih memandang hubungan dengan Tiongkok sebagai arena negosiasi ekonomi ketimbang ancaman keamanan langsung.
Sementara itu, aktivitas angkatan laut PLA tetap konsisten di perairan sekitar Taiwan, menunjukkan bahwa penurunan penerbangan bukan berarti relaksasi keseluruhan postur militer. Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengubah kewaspadaan hanya berdasarkan satu indikator. “Kita tidak bisa menarik kesimpulan dari ketiadaan pesawat PLA semata. Pemantauan menyeluruh terhadap seluruh gerak-gerik tetap menjadi prioritas,” katanya dalam jumpa pers baru-baru ini.
Ketidakpastian ini justru menimbulkan risiko tersendiri. Thompson menekankan bahwa “kekosongan informasi sering diisi dengan spekulasi, dan spekulasi itu sendiri memperbesar ketidakpastian serta potensi salah perhitungan di kedua belah pihak.” Dalam konteks geopolitik yang sudah tegang—dengan latar belakang konflik regional lain dan dinamika internal Tiongkok seperti restrukturisasi militer—jedah penerbangan ini bisa menjadi sinyal rekonsiliasi sementara, uji coba taktik baru, atau sekadar jeda operasional akibat kendala logistik seperti biaya bahan bakar yang melonjak.
Bagi Taiwan, sikap tetap: pertahanan tidak bergantung pada fluktuasi harian lawan. Pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu terus memperkuat kemampuan deteksi dini dan respons cepat, sambil menjaga komunikasi dengan mitra internasional. Ke depan, para pengamat akan mencermati apakah “kebisuan” ini hanya episode sementara atau awal dari pola interaksi yang lebih kompleks di Selat Taiwan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

