RI News Portal. Jakarta – Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memilih cara berbeda untuk memperingati hari ulang tahun Ketua Umumnya, Megawati Soekarnoputri, yang genap berusia 79 tahun pada Jumat (23/1/2026). Alih-alih menggelar perayaan mewah, ribuan kader dan pengurus partai di berbagai penjuru Indonesia serentak melaksanakan gerakan “Merawat Pertiwi” sebagai bentuk penghormatan sekaligus komitmen ideologis.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan, tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perwujudan visi politik yang telah digaungkan Megawati sejak lama. “Gerakan Merawat Pertiwi yang digaungkan Ibu Megawati bukan hanya seruan kultural, tapi juga garis politik tegas partai untuk melawan krisis ekologis yang mengancam kehidupan rakyat dan generasi mendatang,” ujar Hasto dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat.
Ia menambahkan, rekomendasi dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP pekan lalu semakin memperkuat posisi ini. Partai menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan rakyat menjadi prioritas utama menghadapi bencana alam, terutama dampak perubahan iklim. Berlandaskan Pancasila serta ajaran Trisakti Bung Karno, PDIP memandang manusia dan alam sebagai kesatuan yang tak terpisahkan. “Pembangunan yang merusak lingkungan, merampas ruang hidup rakyat, dan mengorbankan masa depan anak cucu adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan dan amanat konstitusi,” tegas Hasto mengutip poin rekomendasi tersebut.

Sebagai wujud nyata, kader PDIP di seluruh daerah melaksanakan aksi konkret seperti penanaman pohon di kawasan kritis, daerah aliran sungai (DAS), serta hutan kota. Kegiatan lain mencakup penanaman mangrove, pembersihan sungai, pelestarian mata air, hingga pelepasan bibit ikan dan burung untuk memperkuat ekosistem kehidupan. “Ibu Megawati selalu menekankan pentingnya menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sebagai bagian dari karakter bangsa yang tangguh,” kata Hasto.
Gerakan ini bukan hal baru; sejak 2020, PDIP telah menjadikannya tradisi tahunan yang mencerminkan filosofi perjuangan di luar ranah kekuasaan semata. “Ini tentang tanggung jawab kolektif terhadap keberlangsungan alam bagi generasi yang akan datang,” tambahnya.
Baca juga :
Tak hanya aksi lingkungan, perayaan juga diwarnai kebersamaan sederhana dengan masyarakat. Pengurus partai di berbagai wilayah bertemu warga kurang mampu, menyantap tumpeng bersama sambil mendoakan Megawati. “Ini bentuk syukur dan perhatian langsung kepada rakyat kecil,” jelas Hasto.
Sementara itu, Megawati sendiri memilih merayakan secara intim dan sederhana di Istana Batu Tulis, Kota Bogor, Jawa Barat, bersama keluarga serta sahabat-sahabat dekat. “Ibu Megawati tetap menjalani hari ini dengan kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya,” tutup Hasto.
Dengan pendekatan ini, PDIP tidak hanya memperingati ulang tahun pemimpinnya, tapi juga memperkuat pesan politik lingkungan yang semakin mendesak di tengah maraknya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan Merawat Pertiwi pun menjadi simbol bahwa perjuangan politik sejati harus selaras dengan pelestarian bumi sebagai ibu pertiwi.
Pewarta : Yudha Purnama

