RI News. Jakarta – Di tengah gejolak geopolitik global yang semakin tajam—dari perang berkepanjangan di Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah pasca-eskalasi Iran—Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz sedang menjalani transformasi militer terbesar sejak reunifikasi. Anggaran pertahanan federal untuk 2026 mencapai sekitar €108-119 miliar (tergantung sumber alokasi dana khusus), naik signifikan dari tahun sebelumnya, dan diproyeksikan mendekati €150 miliar menjelang akhir dekade ini. Langkah ini menjadikan Berlin sebagai penggerak utama peningkatan belanja militer Eropa, yang kini menyumbang lebih dari seperlima total pengeluaran pertahanan dunia.
Pergeseran ini bukan sekadar respons terhadap agresi Rusia atau ketidakpastian komitmen Amerika Serikat di bawah pemerintahan saat ini. Merz secara eksplisit menyatakan ambisi membangun angkatan bersenjata konvensional terkuat di Eropa, lengkap dengan rencana peningkatan personel aktif hingga 260.000 prajurit dan 200.000 cadangan pada 2035, ditambah program pendaftaran wajib militer sukarela bagi pemuda usia 18 tahun. Reformasi ini, yang baru saja disahkan parlemen akhir 2025, menandai akhir era pasifisme pasca-Perang Dingin yang telah lama membatasi kemampuan Bundeswehr.
Namun, kebangkitan militer Jerman ini memunculkan paradoks yang mendalam di kalangan mitra Eropa. Di Paris, kekhawatiran muncul bahwa visi “otonomi strategis Eropa” yang digaungkan Presiden Emmanuel Macron sejak 2017 kini berpotensi bergeser menjadi “aksen Jerman”. Prancis, sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Uni Eropa selain Inggris (yang kini berada di luar UE), melihat dominasi konvensional Jerman dapat menggeser keseimbangan industri pertahanan Eropa. Lonjakan pesanan bagi perusahaan seperti Rheinmetall—yang memproyeksikan nilai kontrak hingga €80 miliar pada 2026—cenderung mengalir ke industri domestik Jerman, mengancam posisi eksportir seperti Dassault Rafale atau Leonardo Italia.

Polandia dan negara-negara Baltik, yang selama ini mendorong peningkatan belanja pertahanan, menyambut komitmen Berlin dengan lega—namun dengan catatan hati-hati. Kenangan sejarah tentang dominasi Jerman masih membayangi, terutama ketika partai sayap kanan jauh Alternative für Deutschland (AfD) terus menunjukkan tren naik dalam jajak pendapat, bahkan mencapai posisi teratas di beberapa negara bagian menjelang pemilu regional 2026. AfD, yang kerap mengkritik utang besar untuk pertahanan dan menyuarakan pendekatan lebih lunak terhadap Rusia, menjadi faktor risiko: jika partai ini suatu saat masuk koalisi pemerintahan, arah kebijakan militer Jerman yang masif bisa berubah drastis, menimbulkan ketidakpastian bagi sekutu.
Para analis keamanan Eropa menilai implikasi ini melampaui sekadar angka anggaran. Jerman kini memiliki ruang fiskal lebih luas berkat amandemen konstitusi yang membebaskan pengeluaran militer dari batas utang, sementara Prancis dan Italia menghadapi defisit tinggi serta utang menumpuk. Hasilnya: ketimpangan konvensional yang semakin lebar, di mana Jerman berpotensi mengungguli gabungan anggaran militer Prancis dan Inggris pada akhir dekade ini—tanpa beban pemeliharaan senjata nuklir yang mahal.
Baca juga : Besi Pengaman Jembatan Melawi II Raib, Polisi Buru Pelaku Pencurian di Tengah Kegelapan Malam
Solusi yang diusulkan beberapa pemikir strategis adalah pendekatan multilateral yang lebih dalam: utang bersama Eropa untuk pertahanan, produksi senjata bersama, dan koordinasi nuklir yang lebih luas (dengan Prancis sebagai inti). Macron baru-baru ini membuka pintu bagi “deterrensi lanjutan” yang melibatkan sekutu Eropa, termasuk diskusi dengan Jerman tentang penempatan aset nuklir Prancis di wilayah mitra. Namun, keberhasilan inisiatif semacam itu bergantung pada kemampuan Berlin meyakinkan tetangganya bahwa kekuatan militernya digunakan untuk kepentingan kolektif, bukan dominasi nasional.
Di era di mana Eropa harus berdiri lebih mandiri—dengan Rusia yang terus mengancam, China yang ekspansif secara ekonomi, dan Amerika yang semakin inward-looking—kebangkitan Jerman bisa menjadi katalisator kekuatan baru. Namun, tanpa komunikasi yang transparan, jaminan multilateral, dan pengendalian risiko politik internal, ambisi ini berpotensi memicu ketegangan baru di antara sekutu. Pertanyaan krusial bagi Eropa saat ini: apakah Jerman sedang mempersenjatai diri untuk benua, atau terutama untuk dirinya sendiri? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah keamanan Eropa di tahun-tahun mendatang.
Pewarta : Setiawan Wibisono

