RI News. Jakarta – Di tengah banjir film horor yang memadati layar lebar, sebuah karya baru berjudul Aku Harus Mati berusaha membedakan diri bukan hanya lewat ketegangan jumpscare, melainkan melalui pesan moral yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Film ini mengajak penonton merenungkan bahaya gaya hidup hedonis dan tekanan validasi sosial yang kerap berujung pada jeratan utang online.
Iwet Ramadhan, perwakilan produser film tersebut, mengungkapkan alasan di balik pilihan genre horor. Menurutnya, film bergenre ini tetap menjadi favorit masyarakat, terutama kalangan anak muda. “Kalau memang kita mau menyampaikan pesan moral yang kuat, maka kita harus masuk ke tontonan yang paling banyak ditonton oleh masyarakat, dan itu adalah film horor,” ujar Iwet saat ditemui di Semarang.
Disutradarai oleh Hestu Saputra, Aku Harus Mati mengisahkan perjalanan Mala, diperankan oleh Hana Saraswati, seorang perempuan yang terjebak dalam lingkaran setan utang akibat gaya hidup mewah di ibu kota. Demi mendapatkan pengakuan dan terlihat “sukses” di mata orang lain, Mala rela melakukan flexing berlebihan hingga terlilit pinjaman online (pinjol). Tekanan tersebut kemudian memicu teror supranatural yang semakin mencekam.

Iwet menjelaskan bahwa cerita film ini diambil langsung dari fenomena sosial yang sedang marak terjadi. Di era media sosial, keinginan untuk mendapat validasi sering kali mendorong seseorang berpikir pendek dan menghalalkan segala cara. “Yang mau kami sampaikan, kami ingin masyarakat untuk lebih berhati-hati. Jangan sampai karena kita butuh validasi dari orang lain, kita butuh terlihat keren di mata orang lain, kemudian kita jadi terjerat hal-hal yang tidak perlu,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tokoh utama Mala merepresentasikan banyak orang yang saat ini bergulat dengan masalah serupa. “Tokoh Mala di dalam film ini kan terjerat utang pinjol, dan itu kan satu hal yang cukup banyak dialami oleh masyarakat di Indonesia saat ini. Nah, itu juga pesan yang mau kami bawa lewat film ini,” katanya.
Film ini dibuat dengan latar belakang yang relatable, di mana ambisi dan keinginan untuk tampil sempurna di dunia maya sering kali mengorbankan kestabilan finansial dan mental. Dengan pendekatan horor yang dominan menggunakan jumpscare, Aku Harus Mati berharap pesan tersebut tersampaikan tanpa terasa menggurui, melainkan melalui pengalaman menonton yang intens.
Baca juga : Gianyar Bekali Generasi Muda dengan Keahlian Kopi dan Rias Wajah untuk Redam Pengangguran
Sementara itu, salah satu pemeran, Prasetya Agni, yang memerankan karakter Nugra—seorang pria Jawa yang kuat dan taat beragama—mengaku menghadapi tantangan besar dalam peran perdananya di layar lebar. Sebagai pemeluk Nasrani, Pras harus memerankan adegan membaca Ayat Kursi dengan penuh penghayatan.
“Yang paling sulit sih sebenarnya tetap pas melafalkan Ayat Kursi. Supaya melafalkannya dengan benar, perasaannya, feeling-nya waktu ngucapin juga benar, pemahamannya,” ungkap Pras. Ia bahkan meluangkan waktu sekitar 10 hari untuk belajar intensif agar pengucapan dan emosi dalam adegan tersebut terasa autentik.
Selain itu, Pras juga menghadapi kesulitan lain, seperti menyesuaikan dialek Jawa yang kental serta tuntutan fisik selama proses syuting yang padat. “Challenge-nya, karena horor kan butuh kekuatan fisik ya, apalagi syutingnya agak rapat waktu itu. Terus, challenge-nya juga yang agak susah dialek Jawa. Jadi, logat tuh susah nempelnya,” tambahnya.
Pengambilan gambar film ini dilakukan di Yogyakarta selama 18 hari, menghadirkan suasana yang semakin memperkuat nuansa horor sekaligus kedekatan dengan budaya lokal. Dengan menggabungkan elemen ketakutan supranatural dan kritik sosial yang tajam, Aku Harus Mati berupaya menjadi lebih dari sekadar hiburan malam. Film ini mengingatkan bahwa di balik kilauan validasi sosial, sering kali tersembunyi jerat yang jauh lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri.
Pewarta : Vie

