RI News. Wonogiri – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Wonogiri sepanjang akhir pekan, Sabtu hingga Minggu (21–22 Februari 2026), memicu serangkaian bencana hidrometeorologi. Banjir bandang di permukiman, jebolnya tanggul sungai, serta ambruknya struktur talud menjadi dampak utama yang melanda dua kecamatan, menimbulkan kerugian materiil dan mengancam keselamatan warga.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, operasi tanggap darurat langsung digerakkan sejak Minggu malam dan berlanjut hingga Senin (23 Februari 2026) siang. Penanganan melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk TNI, Polri, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta I, serta relawan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menjelaskan bahwa debit air di saluran drainase dan sungai-sungai kecil melonjak melebihi kapasitas tampung akibat hujan lebat berkepanjangan. Genangan terparah tercatat di Perumahan Emerald Regency 5, Desa Purworejo, Kecamatan Wonogiri, pada Minggu malam. Delapan warga, termasuk balita, sempat terjebak di dalam rumah akibat luapan air dari Kali Semin yang jebol pagar pembatasnya. Tim evakuasi berhasil menyelamatkan mereka tanpa korban jiwa.

Memasuki Senin pagi, fokus beralih ke pemulihan pascabencana. Petugas membersihkan lumpur yang menutupi jalan lingkungan dan melakukan normalisasi drainase untuk mengembalikan fungsi infrastruktur dasar. “Koordinasi dengan instansi terkait sedang dilakukan untuk memperbaiki pagar pembatas sungai yang jebol, agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Fuad dalam keterangan resminya.
Total dampak banjir mencapai 14 keluarga atau 43 jiwa terdampak. Bantuan logistik berupa kebutuhan dasar telah disalurkan untuk mendukung masa tanggap darurat. Pemeriksaan medis oleh Puskesmas setempat menemukan satu warga mengalami luka ringan akibat benda tajam selama proses evakuasi; korban telah ditangani dan kondisinya stabil.
Di Kecamatan Ngadirojo, dampak serupa melanda Dusun Brubuh, Desa Ngadirojo Lor. Talud penahan tanah sepanjang sekitar 25 meter dengan tinggi dua meter runtuh pada Minggu sore setelah drainase meluap dan menekan struktur di sekitar TK Mutiara Hati 2. Aliran lumpur sempat masuk ke beberapa rumah warga. Penanganan awal dilakukan secara gotong royong oleh perangkat desa, relawan Destana, Palang Merah Indonesia, dan masyarakat setempat melalui pembersihan manual. Keesokan harinya, excavator milik warga digunakan untuk mengangkat material longsoran.
Baca juga : Polres Payakumbuh Sikat 66 Motor Balap Liar dan Knalpot Brong di Malam Ramadan
Masih di desa yang sama, luapan air juga menggenangi satu rumah di Dusun Kenteng RT 02/03 pada Minggu malam, meski genangan telah surut dan kondisi terkendali pada Senin.
Fuad menekankan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan, mengingat prakiraan cuaca masih membuka potensi hujan lebat susulan. “Kami mengimbau warga yang bermukim di dekat saluran air atau lereng rawan longsor untuk tetap siaga. Segera laporkan jika melihat tanda-tanda bahaya, seperti retakan tanah atau debit air yang meningkat drastis,” pungkasnya.
Pemantauan intensif terus dilakukan oleh BPBD dan mitra terkait guna mencegah eskalasi dampak lebih lanjut di tengah musim hujan yang masih berlangsung.
Pewarta: Nandar Suyadi

