Skip to content
19/01/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Budaya
  • Hiburan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Stories
  • Historial Perang Jawa: Nyala Perlawanan Pangeran Diponegoro

Historial Perang Jawa: Nyala Perlawanan Pangeran Diponegoro

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 bulan ago 3 min read
Nyala Perlawanan Pangeran Diponegoro
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Semarang– Angin sore bertiup pelan di desa Tegalrejo. Pangeran Diponegoro, yang kala itu lebih suka hidup sederhana di luar keraton, duduk di serambi rumah sambil memandang sawah yang mulai menguning. Hatinya gelisah, bukan karena urusan dunia, tetapi karena tanah leluhurnya hendak dilalui proyek jalan yang dipaksakan Belanda.

“Apakah kita harus diam saat tanah warisan para leluhur diinjak-injak?” ucapnya lirih pada Kiai Mojo, sahabat dan penasihat spiritualnya.
“Tidak, Pangeran. Rakyat sudah terlalu lama menanggung beban. Mungkin inilah saatnya jihad melawan penindasan,” jawab Kiai Mojo dengan suara mantap.

Beberapa hari kemudian, bendera perlawanan dikibarkan. Ribuan rakyat dari Bagelen, Banyumas, hingga Kediri berbondong-bondong datang membawa senjata seadanya: pedang, tombak, bahkan bambu runcing. Mereka percaya, bersama Diponegoro, mereka akan menuntut keadilan.

Tanggal 20 Juli 1825 menjadi awal dari kobaran besar. Pasukan Diponegoro menyerang pos Belanda di dekat Yogyakarta. Asap membumbung, dentuman senjata api Belanda terdengar bersahutan dengan teriakan takbir para laskar.

“Jangan takut pada peluru mereka!” seru Pangeran Diponegoro di tengah medan. “Allah bersama kita, bersama orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran!”

Belanda kaget. Dalam hitungan bulan, perlawanan Diponegoro menyebar ke hampir seluruh Jawa. Belanda mengirim ribuan tentara, namun taktik gerilya yang dipimpin para panglima Diponegoro membuat mereka kewalahan. Jalan-jalan menuju kota terputus, logistik Belanda terhambat, dan beberapa benteng kolonial berhasil direbut.

Namun perang selalu membawa duka. Rakyat banyak yang meninggalkan sawah dan ladang, hidup di hutan dan gua untuk menghindari kejaran tentara kolonial. Dalam keheningan malam, Diponegoro sering duduk termenung.

“Berapa lama lagi kita harus bertahan, Kiai?” tanya Diponegoro pada Kiai Mojo.
“Selama darah kita masih mengalir, Pangeran. Perlawanan ini bukan untuk kita, tapi untuk anak cucu kelak.”

Melihat kekuatan Diponegoro yang tak kunjung padam, Jenderal De Kock merancang benteng stelsel—membangun benteng kecil di setiap desa untuk memutus gerakan laskar. Sedikit demi sedikit, kekuatan Diponegoro terdesak. Beberapa panglima gugur, di antaranya Sentot Prawirodirjo yang setia berperang hingga akhir.

Baca juga : Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Menbud Fadli Zon Tekankan Jati Diri Bangsa

Musim kemarau tahun 1829 menjadi masa tersulit. Rakyat kekurangan makanan, penyakit mulai menyebar, dan pengkhianatan terjadi di beberapa pihak. Meski begitu, semangat Diponegoro tak surut.
“Kita boleh kalah di medan perang,” ujarnya pada para pengikutnya, “tapi jangan pernah kalah dalam iman dan keyakinan.”

Tahun 1830, Belanda menawarkan perundingan damai. Di Magelang, Pangeran Diponegoro datang dengan harapan dapat mengakhiri penderitaan rakyat. Namun, itu hanyalah siasat licik.
Ketika pintu ruang perundingan tertutup, De Kock memberi tanda pada tentaranya.
“Maafkan aku, Pangeran. Ini perintah negeri kami,” ujar De Kock dengan dingin.

Diponegoro ditangkap tanpa sempat melawan. Dari balik jendela penjara, ia menatap langit Magelang, seakan berbicara kepada rakyatnya:
“Perjuangan ini belum berakhir. Suatu hari nanti, bangsa ini akan merdeka.”

Meski diasingkan ke Manado, lalu Makassar, nama Diponegoro justru semakin harum. Perang Jawa yang menelan korban ratusan ribu jiwa menjadi saksi bahwa semangat perlawanan rakyat Nusantara tak bisa dipadamkan. Kini, Pangeran Diponegoro dikenang bukan hanya sebagai pahlawan perang, tetapi sebagai simbol keteguhan hati, iman, dan keberanian melawan ketidakadilan.

Penulis : Anjar Bramantyo

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Menbud Fadli Zon Tekankan Jati Diri Bangsa
Next: Rusia Terbuka untuk Perdamaian dengan Ukraina, namun Prioritaskan Pencapaian Tujuan Strategis

Related Stories

Lintas Agama Kawal Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara
3 min read

Doa Bersama Tokoh Adat, Spiritual, dan Lintas Agama Kawal Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara

Jurnalis RI News Portal Posted on 14 jam ago 0
Fadli Zon Soroti Potensi Sumedang sebagai Episentrum Kebudayaan Sunda
2 min read

Fadli Zon Soroti Potensi Sumedang sebagai Episentrum Kebudayaan Sunda

Jurnalis RI News Portal Posted on 16 jam ago 0
Komitmen Pemerintah dalam Melestarikan Lapisan Sejarah Nusantara
3 min read

Revitalisasi Museum Situs Pasir Angin: Komitmen Pemerintah dalam Melestarikan Lapisan Sejarah Nusantara

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 hari ago 0
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. Sami.s mengenai Kota Kediri Naik Kelas: Predikat “Sangat Inovatif” dalam Innovative Government Award 2025
  2. Sami.s mengenai Dugaan Penyalahgunaan Solar Bersubsidi di Pesisir Selatan: Antara Keluhan Masyarakat dan Kebijakan Pembatasan Provinsi
  3. Adi tanjoeng mengenai Petugas Karantina Ketapang Gagalkan Penyelundupan 120 Kg Hiu Dilindungi CITES di Banyuwangi
  4. Sugeng Rudianto mengenai Polres Wonogiri Perkuat Pencegahan Bullying melalui Pendekatan Edukasi Dini di Sekolah Dasar
  5. Sami.s mengenai Iran dan Rusia Sepakat Perluas Model Kerja Sama Pertanian ke Sektor Strategis Lainnya

Berita Video

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
  • Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan
  • Doa Bersama Tokoh Adat, Spiritual, dan Lintas Agama Kawal Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara
  • Ribuan Umat Hindu Berdoa di Joglo Pesantren: Klaten Menulis Babak Baru Harmoni Lintas Iman
  • Padang Perluas Akses Pendidikan Internasional melalui Kerja Sama dengan Guangdong
Copyright © RI News Production | PT. Virnanda Creator Productions | Editor IT. Setiawan Wibisono.