RI News. Karanganyar – Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Kamis (12/3/2026), ratusan pendekar dari berbagai aliran pencak silat memilih duduk bersila daripada beradu jurus. Di Padepokan Persinas ASAD yang terletak di Kompleks Al Amaanah, mereka berkumpul untuk buka puasa bersama—sebuah momen langka yang meleburkan batas-batas ego antarperguruan di wilayah Bumi Intanpari.
Acara yang digagas keluarga besar Persinas ASAD ini berhasil menyatukan perwakilan sekitar 12 perguruan pencak silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Karanganyar. Hadir pula unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompinca) Tasikmadu serta tokoh-tokoh silat lokal, semuanya tanpa memandang seragam atau lambang organisasi masing-masing. Suasana hangat terasa sejak awal: senyum saling lempar, obrolan ringan, dan antisipasi azan Magrib yang segera berkumandang.

Ketua IPSI Kabupaten Karanganyar, Mohamad Rusdiyanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberagaman perguruan justru menjadi kekuatan utama pencak silat di daerah ini. “Perguruan di Karanganyar adalah milik kita bersama. Bukan soal siapa yang paling kuat atau paling tua, melainkan bagaimana kita saling menghormati dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa harmoni itu nyata,” ujarnya dengan nada mantap.
Ia juga mengajak agar inisiatif serupa terus berkembang hingga ke tingkat desa dan kecamatan. Menurut Rusdiyanto, forum komunikasi rutin seperti ini menjadi benteng awal untuk mencegah potensi gesekan atau konflik sektoral yang kadang muncul di kalangan praktisi bela diri tradisional.
Sebagai tuan rumah, Joko Widodo dari Persinas ASAD Karanganyar menyoroti dimensi lebih dalam dari pencak silat di bulan puasa. “Silat bukan hanya ilmu bertarung fisik. Ia adalah sekolah karakter yang mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan yang terberat: mengendalikan diri,” katanya.
Baca juga : Defisit di Atas 3%: Pemerintah Siap Longgarkan Rem Fiskal Demi Pertumbuhan 2026
Ia menambahkan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar ritual makan-minum, melainkan sarana mempertegas makna kebersamaan yang melintasi batas organisasi. Di tengah hiruk-pikuk persaingan prestasi, momen seperti ini mengingatkan bahwa persaudaraan sesama pendekar adalah nilai inti yang harus dijaga.
Selain silaturahmi, pertemuan ini juga menjadi ajang diskusi informal tentang pembinaan generasi muda. Para tokoh sepakat untuk memperkuat program latihan atlet muda agar lebih kompetitif di level nasional. Harapannya, Karanganyar tidak hanya dikenal sebagai gudang talenta pencak silat, tetapi juga sebagai teladan kerukunan antarperguruan.
Acara ditutup dengan doa bersama yang khidmat, diikuti foto bersama yang menampilkan para pengurus, perwakilan perguruan, dan aparat keamanan berdiri bahu-membahu. Gambar itu menjadi simbol kuat: bahwa keamanan dan kedamaian wilayah dimulai dari persatuan para pendekar di bawah satu langit yang sama.
Pewarta: Sriyanto

