RI News Portal. Kyiv, 29 Januari 2026 – Di tengah musim dingin yang semakin menusuk, perang Rusia-Ukraina memasuki tahun kelima dengan catatan tragis yang terus membengkak. Sebuah analisis mendalam yang dirilis pekan ini memproyeksikan bahwa total korban jiwa dan luka-luka di kedua pihak—baik prajurit maupun dampak tidak langsung—berpotensi mencapai dua juta orang pada akhir musim semi mendatang. Angka tersebut menjadikan konflik ini sebagai perang paling mematikan bagi sebuah kekuatan besar sejak Perang Dunia Kedua berakhir delapan dekade silam.
Studi yang dilakukan oleh kelompok kajian strategis independen berbasis di Washington itu memperkirakan Rusia telah kehilangan sekitar 325.000 prajurit tewas sejak Februari 2022 hingga penghujung 2025, dengan total korban (termasuk luka berat dan hilang) mencapai 1,2 juta orang. Sementara itu, pihak Ukraina—yang memiliki kekuatan personel dan populasi jauh lebih kecil—diperkirakan menderita 500.000 hingga 600.000 korban militer, termasuk hingga 140.000 kematian.
“Biaya manusia yang harus dibayar Rusia untuk setiap meter tanah yang direbut sungguh luar biasa tinggi, sementara keuntungan teritorial yang diperoleh sangat terbatas,” demikian inti temuan studi tersebut. Para penyusun analisis menegaskan bahwa laju kemajuan pasukan Rusia di sebagian besar front hanya berkisar 15–70 meter per hari pada operasi-ofensif terbesar mereka—sebuah kecepatan yang jauh lebih lambat dibandingkan sebagian besar serangan besar dalam sejarah perang abad ke-20 dan ke-21.

Meski demikian, pola perang gesekan (war of attrition) tampaknya tetap menjadi strategi utama yang ditempuh Moskow. Para pengamat mencatat bahwa kepemimpinan Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda urgensi untuk mencapai kesepakatan damai, meskipun pasukan di garis depan sepanjang hampir seribu kilometer terus menghadapi tekanan logistik, kelelahan personel, dan kerugian material yang masif.
Pada sisi lain, laporan resmi dari kedua ibu kota tetap minim dan saling bertolak belakang. Moskow terakhir kali merilis angka resmi pada September 2022—kurang dari 6.000 prajurit tewas—dan sejak itu tidak lagi memperbarui data. Sementara Kyiv, melalui pernyataan Presiden Volodymyr Zelenskyy awal 2025, menyebut korban tewas Ukraina telah melampaui 46.000 orang—angka yang diyakini sebagian analis masih berada di bawah realitas lapangan.
Hingga kini, verifikasi independen terutama mengandalkan penghimpunan nama-nama korban yang dilakukan oleh kelompok jurnalis investigasi dan relawan. Hingga akhir 2025, lebih dari 160.000 nama prajurit Rusia telah teridentifikasi melalui sumber terbuka—mulai dari obituary lokal, pengumuman keluarga di media sosial, hingga dokumen pemerintah yang bocor.
Baca juga : Kim Jong Un Umumkan Rencana Besar Penguatan Nuklir di Kongres Partai, Putri Remaja Muncul Lagi di Sampingnya
Ironisnya, di saat korban terus berjatuhan, serangan udara dan drone tetap menjadi pemandangan harian. Malam Rabu lalu (28 Januari 2026 waktu setempat), serangan Rusia menghantam permukiman di pinggiran Kyiv hingga menewaskan dua warga sipil dan melukai sembilan lainnya di beberapa wilayah, termasuk Odesa, Kryvyi Rih, dan Zaporizhzhia. Ukraina melaporkan berhasil menetralkan lebih dari seratus drone penyerang, sementara Rusia mengklaim menembak jatuh puluhan drone Ukraina di wilayah Krasnodar, Krimea, dan Voronezh—termasuk serangan terhadap sebuah depo bahan bakar.
Proyeksi dua juta korban gabungan pada musim semi 2026—jika tercapai—akan menandai titik balik psikologis dan strategis yang sangat berat, baik bagi masyarakat Rusia maupun Ukraina. Pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi seberapa cepat salah satu pihak menang, melainkan seberapa lama keduanya mampu bertahan membayar harga darah yang terus meningkat tanpa akhir yang tampak.
Pewarta : Anjar Bramantyo


Assalamualaikum…
Selamat siang untuk keluarga besar RINews portal..
Salam dari Sumatra Barat