RI News Portal. CAPE CANAVERAL, Fla — Pada 14 Januari 2026, empat astronot meninggalkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) lebih awal dari jadwal akibat kondisi medis yang dialami salah satu anggota kru. Keberangkatan ini menandai evakuasi medis pertama dalam sejarah program luar angkasa berawak NASA, yang telah berlangsung selama 65 tahun. Astronot yang terlibat berasal dari Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang, dan mereka menggunakan kapsul SpaceX untuk kembali ke Bumi, dengan pendaratan direncanakan di Samudra Pasifik dekat San Diego pada pagi hari 15 Januari waktu setempat.
Kru yang terdiri dari astronot NASA Zena Cardman dan Mike Fincke, astronot Jepang Kimiya Yui, serta kosmonot Rusia Oleg Platonov, awalnya diluncurkan pada Agustus 2025 dan dijadwalkan tinggal di ISS hingga akhir Februari 2026. Namun, pada 7 Januari, NASA membatalkan rencana spacewalk yang dijadwalkan untuk keesokan harinya, diikuti pengumuman kepulangan dini. Pejabat NASA menekankan bahwa kondisi astronot yang bersangkutan stabil dan bukan merupakan situasi darurat, tetapi memerlukan evaluasi medis lengkap di Bumi untuk memanfaatkan fasilitas diagnostik yang lebih canggih.

Dari perspektif akademis, peristiwa ini menyoroti tantangan kesehatan dalam misi luar angkasa jangka panjang. Penelitian di bidang kedokteran luar angkasa menunjukkan bahwa astronot sering menghadapi risiko seperti atrofi otot, penurunan kepadatan tulang, dan gangguan sistem kekebalan akibat paparan radiasi serta mikrogravitasi. Meskipun ISS dilengkapi dengan peralatan medis dasar dan dukungan dari tim dokter di Bumi, kasus seperti ini menggarisbawahi keterbatasan penanganan medis di orbit. Model komputasi NASA memperkirakan kemungkinan evakuasi medis setiap tiga tahun, meskipun ini adalah yang pertama bagi agensi tersebut.
Sejarah program luar angkasa Rusia memberikan konteks lebih lanjut. Pada 1985, kosmonot Soviet Vladimir Vasyutin harus kembali dini dari stasiun Salyut 7 karena infeksi serius, sementara beberapa kasus lain melibatkan masalah kesehatan ringan yang mempersingkat misi. Perbandingan ini mengilustrasikan evolusi protokol medis internasional, di mana kerjasama antara NASA, Roscosmos, dan JAXA menjadi kunci dalam mengelola risiko. Evakuasi kali ini juga mencerminkan kemajuan teknologi, di mana kapsul SpaceX memungkinkan kepulangan cepat tanpa mengganggu operasi stasiun secara keseluruhan.
Baca juga : Peresmian Jembatan Merah Putih Presisi: Simbol Keterhubungan Polri dan Masyarakat di Pedesaan Jawa Tengah
Dengan kepergian kru ini, ISS sementara hanya ditempati oleh tiga astronot: satu dari AS dan dua dari Rusia, yang baru memulai misi delapan bulan mereka sejak November 2025. NASA berencana mempercepat peluncuran kru pengganti dari Florida pada pertengahan Februari, untuk mengembalikan kapasitas operasional penuh. Selama periode ini, aktivitas seperti spacewalk rutin atau darurat akan ditunda, karena tugas tersebut memerlukan minimal dua orang dengan dukungan internal.
Keputusan ini merupakan yang pertama di bawah kepemimpinan administrator baru NASA, Jared Isaacman, yang menekankan prioritas utama pada kesehatan astronot. Dalam pengumuman pekan lalu, ia menyatakan bahwa risiko meninggalkan astronot tanpa perawatan optimal di orbit lebih tinggi daripada mengurangi sementara jumlah kru di stasiun. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip etika dalam kedokteran luar angkasa, yang menekankan pencegahan daripada pengobatan reaktif.

Secara lebih luas, insiden ini mendorong diskusi akademis tentang masa depan eksplorasi luar angkasa, terutama untuk misi ke Mars atau bulan yang lebih jauh. Peneliti di bidang biologi dan fisiologi luar angkasa berpendapat bahwa pengembangan obat-obatan adaptif dan sistem medis otonom akan krusial untuk mengurangi ketergantungan pada evakuasi darurat. Kasus ini tidak hanya menjadi pelajaran operasional, tetapi juga bahan kajian untuk meningkatkan ketahanan manusia di lingkungan ekstrem.
Proses kepulangan melibatkan prosedur standar, dengan tim medis siap di kapal pemulihan. Setelah mendarat, astronot akan dibawa ke Houston untuk pemeriksaan lebih lanjut. Meskipun detail medis tetap dirahasiakan atas dasar privasi, peristiwa ini mengingatkan pada kerentanan manusia di luar angkasa, sekaligus menunjukkan ketangguhan sistem internasional yang mendukungnya.
Pewarta : Setiawan Wibisono

