RI News Portal. KYIV, Ukraina 1 Januari 2026 – Pada awal tahun 2026, konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina kembali menunjukkan pola eskalasi militer yang tajam, meskipun proses negosiasi damai di bawah mediasi internasional, terutama dari Amerika Serikat, menunjukkan kemajuan signifikan. Insiden serangan drone yang saling tuding antara kedua belah pihak menjadi sorotan utama, mencerminkan ketegangan yang terus meningkat di garis depan serta upaya untuk memengaruhi opini publik dan posisi negosiasi.
Pejabat Rusia melaporkan bahwa serangan drone Ukraina pada malam Tahun Baru menargetkan sebuah kafe dan hotel di desa Khorly, wilayah Kherson yang berada di bawah kendali Rusia. Serangan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 24 warga sipil, termasuk seorang anak, dan melukai lebih dari 50 orang lainnya. Salah satu drone diduga membawa bahan pembakar yang memicu kebakaran hebat di lokasi perayaan Tahun Baru. Pihak berwenang Rusia menyebut insiden ini sebagai serangan terencana terhadap target sipil, yang memicu kecaman keras dari pejabat tinggi Moskow dan penyelidikan pidana sebagai tindak terorisme. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen, dan pihak Ukraina belum memberikan respons resmi atas tuduhan tersebut.
Di sisi lain, Rusia menuduh Ukraina melakukan upaya serangan drone jarak jauh terhadap salah satu kediaman resmi Presiden Vladimir Putin di wilayah barat laut Rusia pada akhir Desember 2025. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh puluhan drone dan menyajikan bukti berupa rekaman video serta data navigasi yang konon menunjukkan kediaman tersebut sebagai target akhir. Tuduhan ini dibantah keras oleh Kyiv, yang menyebutnya sebagai fabrikasi untuk mengganggu momentum negosiasi damai. Penilaian intelijen dari sumber Barat menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut, dan serangan drone Ukraina lebih mungkin menargetkan sasaran militer di wilayah yang sama.

Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan gelombang serangan drone Rusia terhadap infrastruktur sipil Ukraina, termasuk wilayah Odesa dan pembangkit listrik tenaga nuklir, yang menyebabkan pemadaman listrik luas dan kerusakan pada koneksi daya eksternal. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menerima keluhan resmi dari Ukraina mengenai ancaman terhadap keselamatan nuklir akibat serangan tersebut. Pasukan pertahanan udara Ukraina melaporkan berhasil menangkal sebagian besar drone Rusia dalam serangan malam Tahun Baru, meskipun beberapa sasaran sipil tetap terdampak.
Dari perspektif akademis, pola saling serang ini dapat dianalisis sebagai bentuk “perang informasi” yang bertujuan untuk memperkuat narasi domestik masing-masing pihak. Rusia menggunakan insiden Khorly untuk mempertegas resolusi militer dan menolak konsesi dalam negosiasi, sementara Ukraina menekankan ancaman terhadap infrastruktur kritis untuk memperoleh dukungan internasional lebih lanjut. Dinamika ini mencerminkan dilema klasik dalam studi konflik: eskalasi taktis untuk memperbaiki posisi bargaining di meja perundingan, sebagaimana digambarkan dalam teori negosiasi konflik bersenjata.
Baca juga : Ketegangan di Selat Taiwan: Respons Taiwan terhadap Manuver Militer China dan Implikasi Strategisnya
Sementara itu, proses diplomasi menunjukkan prospek yang lebih optimis. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dalam pidato Tahun Barunya, menyatakan bahwa kerangka kesepakatan damai telah mencapai 90% kesiapan, dengan fokus pada jaminan keamanan pasca-perang dan mekanisme pencegahan konflik ulang. Sisanya 10%, yang mencakup isu territorial dan militer, dianggap sebagai elemen penentu nasib perdamaian jangka panjang bagi Ukraina dan Eropa. Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menerima kesepakatan lemah yang hanya memperpanjang ancaman agresi.
Upaya mediasi AS melibatkan diskusi intensif dengan kedua belah pihak serta mitra Eropa. Pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini menghasilkan komitmen untuk memperkuat jaminan keamanan dan mekanisme dekonfliksi, dengan rencana pertemuan lanjutan antara pejabat Ukraina dan Eropa pada awal Januari 2026. Meskipun tantangan tetap ada—terutama mengenai pengakuan wilayah dan pengurangan militer—kemajuan ini menandakan potensi transisi dari fase konfrontasi langsung menuju diplomasi berkelanjutan.

Secara keseluruhan, awal 2026 menggambarkan paradoks konflik Rusia-Ukraina: peningkatan kekerasan militer di lapangan beriringan dengan akselerasi dialog damai. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk menilai apakah eskalasi ini merupakan strategi temporer untuk memperkuat posisi negosiasi atau indikasi kegagalan diplomasi. Pemantauan independen atas klaim saling tuding tetap krusial untuk memahami dinamika konflik yang kompleks ini.
Pewarta : Setiawan Wibisono

