RI News Portal. Phnom Penh/Bangkok, 24 Desember 2025 – Konflik bersenjata di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja terus menunjukkan tanda-tanda eskalasi, dengan laporan tembakan artileri dan serangan udara yang saling tuding, meskipun pertemuan bilateral tingkat tinggi antara militer kedua negara dijadwalkan berlangsung pada hari ini dalam kerangka Komite Perbatasan Umum (General Border Committee/GBC).
Menurut pernyataan resmi dari otoritas Kamboja, pasukan Thailand telah meluncurkan serangan artileri ke wilayah Poipet dan Provinsi Banteay Meanchey, yang mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil. Sementara itu, militer Thailand menyatakan bahwa operasi mereka difokuskan pada penghancuran fasilitas yang diduga digunakan sebagai basis militer dan penyimpanan senjata, termasuk bangunan-bangunan di Poipet yang sebelumnya terkait dengan aktivitas ilegal lintas batas. Pertukaran tembakan juga dilaporkan intens di sekitar area Candi Preah Vihear, situs warisan dunia UNESCO yang menjadi simbol sengketa historis kedua negara, dengan Kamboja menggunakan roket jarak jauh sebagai respons defensif.
Konflik ini merupakan kelanjutan dari ketegangan yang meletus sejak awal Desember, setelah gencatan senjata sebelumnya yang dimediasi secara internasional gagal dipertahankan. Meskipun pertemuan GBC hari ini diharapkan membahas mekanisme verifikasi gencatan senjata dan de-eskalasi, bentrokan sporadis dilaporkan masih terjadi di beberapa titik perbatasan, termasuk wilayah Sa Kaeo dan area pesisir Teluk Thailand.

Dampak kemanusiaan dari konflik ini semakin mengkhawatirkan. Otoritas Thailand melaporkan puluhan personel militer dan satu warga sipil tewas, disertai ratusan korban luka. Di sisi Kamboja, setidaknya dua puluh warga sipil dilaporkan menjadi korban jiwa, dengan puluhan lainnya terluka akibat serangan yang semakin mendekati pemukiman. Secara keseluruhan, hampir satu juta warga dari kedua belah pihak terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di kamp-kamp darurat. Pengungsian massal ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan dan kekurangan pasokan dasar di tengah musim dingin regional.
Para analis hubungan internasional menilai bahwa akar konflik ini terletak pada interpretasi berbeda terhadap garis batas kolonial era Prancis abad ke-19, yang diperburuk oleh isu-isu kontemporer seperti aktivitas ilegal di zona perbatasan. Tuduhan saling lempar mengenai pelanggaran wilayah dan penggunaan senjata berat telah menghambat upaya diplomasi sebelumnya. Pertemuan GBC hari ini menjadi ujian krusial bagi komitmen kedua negara untuk kembali ke jalur dialog, di tengah seruan dari komunitas regional agar kedua pihak menahan diri maksimal dan menghindari perluasan konflik yang dapat mengganggu stabilitas Asia Tenggara.
Sementara itu, pihak Thailand menolak tuduhan Kamboja terkait kerusakan lingkungan sebagai upaya pengalihan isu, menekankan bahwa operasi mereka semata-mata bersifat defensif. Pengamat independen menyerukan intervensi netral untuk memverifikasi klaim kedua belah pihak, guna mencegah eskalasi lebih lanjut yang berpotensi menarik perhatian aktor eksternal.
Situasi tetap cair, dengan harapan bahwa pembicaraan bilateral hari ini dapat menghasilkan langkah konkret menuju penghentian permusuhan dan pemulihan kepercayaan antarnegara tetangga ini.
Pewarta : Anjar Bramantyo

