RI News Portal. Pyongyang, 30 Desember 2025 – Korea Utara baru-baru ini melakukan serangkaian demonstrasi militer yang menegaskan komitmennya terhadap penguatan postur penangkalan nuklir. Pada 28 Desember 2025, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara langsung mengawasi uji coba misil jelajah strategis jarak jauh di perairan barat Semenanjung Korea. Menurut laporan resmi, misil-misil tersebut mengikuti lintasan yang telah ditentukan selama lebih dari dua jam sebelum mengenai target dengan akurat, menunjukkan peningkatan signifikan dalam keandalan dan kemampuan manuver sistem senjata tersebut.
Uji coba ini terjadi hanya beberapa hari setelah Pyongyang memamerkan kemajuan substansial dalam program kapal selam bertenaga nuklirnya. Foto-foto yang dirilis menampilkan lambung kapal selam kelas 8.700 ton yang hampir selesai, dengan Kim Jong Un didampingi putrinya dalam kunjungan inspeksi. Kapal selam ini dirancang untuk membawa misil balistik yang diluncurkan dari bawah air (SLBM) serta misil jelajah, yang berpotensi meningkatkan survivabilitas kekuatan nuklir Korea Utara dengan memungkinkan operasi tersembunyi di laut lepas.
Dari perspektif analisis strategis, perkembangan ini mencerminkan evolusi doktrin militer Korea Utara menuju triad nuklir yang lebih lengkap—daratan, udara, dan laut. Misil jelajah strategis, yang tidak dilarang oleh resolusi Dewan Keamanan PBB (berbeda dengan misil balistik), menawarkan fleksibilitas tinggi karena kemampuannya terbang rendah dan bermanuver, sehingga sulit dideteksi oleh sistem pertahanan rudal konvensional. Pakar militer independen memperkirakan bahwa senjata ini dapat digunakan untuk menargetkan aset maritim sekutu di kawasan, termasuk kapal induk dan pangkalan angkatan laut, dalam skenario konflik hipotetis.

Konteks geopolitik yang lebih luas turut membentuk akselerasi ini. Sejak runtuhnya diplomasi nuklir berisiko tinggi pada 2019, Korea Utara telah memperluas arsenalnya secara eksponensial, dengan estimasi bahwa negara tersebut kini memiliki material fisil untuk puluhan hulu ledak tambahan. Kerja sama militer yang semakin dalam dengan Rusia—termasuk transfer teknologi sebagai imbalan atas dukungan dalam konflik regional—diduga telah berkontribusi pada kemajuan teknis ini, meskipun detailnya tetap spekulatif karena kurangnya verifikasi independen.
Di sisi diplomatik, demonstrasi ini bertepatan dengan persiapan kongres Partai Buruh Korea yang dijadwalkan awal 2026, di mana Kim Jong Un kemungkinan akan mengumumkan prioritas strategis baru. Sinyal dari Pyongyang menunjukkan keterbukaan terhadap dialog dengan Amerika Serikat, asalkan Washington meninggalkan tuntutan denuklirisasi total dan mengakui status Korea Utara sebagai kekuatan nuklir. Pernyataan ini menggemakan posisi sebelumnya bahwa arsenal nuklir merupakan jaminan eksistensial terhadap ancaman eksternal.
Baca juga : Dinamika Diplomasi AS-Israel: Implikasi Pertemuan Trump-Netanyahu terhadap Stabilitas Timur Tengah
Implikasi jangka panjang bagi stabilitas Semenanjung Korea dan Indo-Pasifik cukup signifikan. Penguatan kemampuan second-strike melalui kapal selam nuklir dapat menurunkan ambang batas krisis, karena meningkatkan persepsi invulnerabilitas di pihak Pyongyang. Sementara itu, aliansi pertahanan regional, termasuk dengan Amerika Serikat, diharapkan memperkuat postur pencegahan mereka sebagai respons. Namun, tanpa saluran dialog yang efektif, risiko miskalkulasi tetap tinggi.
Perkembangan ini menggarisbawahi paradoks keamanan di kawasan: upaya unilateral untuk memperkuat penangkalan sering kali memicu spiral eskalasi. Pendekatan multilateral yang seimbang, termasuk pengendalian senjata parsial sebagai langkah interim, mungkin menjadi jalur realistis untuk meredakan ketegangan, meskipun tantangan politiknya tetap besar.
Pewarta : Anjar Bramantyo

