RI News. Netherlands,, 1 Mei 2026 — Di tengah ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di Eropa, Belanda sedang mengalami lonjakan minat masyarakat terhadap dinas militer cadangan. Yang mengejutkan, dorongan terbesar justru datang dari keluarga kerajaan, bukan dari kebijakan pemerintah semata.
Dengan wajah tertutup cat kamuflase, sekelompok prajurit cadangan muncul diam-diam dari balik pepohonan hutan di timur Belanda. Mereka menggendong senapan Colt C7 sambil terus mengawasi lingkungan sekitar. Latihan akhir pekan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya serius negara tersebut memperkuat pertahanannya di tengah ancaman keamanan yang semakin tidak terprediksi.
Pemerintah Belanda telah menetapkan target ambisius: meningkatkan jumlah personel militer dari sekitar 80.000 menjadi 120.000 orang pada tahun 2035. Rencana ini mendapat dukungan lintas partai politik. Namun, yang paling menonjol adalah partisipasi aktif Ratu Máxima dan Putri Mahkota Amalia sebagai sukarelawan cadangan. Keikutsertaan mereka disebut-sebut sebagai katalisator yang powerful, yang kini dikenal di kalangan internal Kementerian Pertahanan sebagai “Efek Amalia” dan semakin diperkuat oleh “Efek Máxima”.

Seorang anggota cadangan yang enggan disebut namanya mengungkapkan adanya perubahan pola pikir di kalangan militer. “Dulu ketika saya bergabung, ancaman terasa sangat minim. Sekarang situasinya berbeda. Kami harus lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan,” ujarnya. Fokus pun bergeser ke kemampuan infanteri dasar dan pertahanan wilayah, bukan hanya operasi perdamaian seperti satu dekade lalu.
Pejabat Uni Eropa dan NATO menyatakan kekhawatiran bahwa Rusia berpotensi melancarkan agresi baru di Eropa dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan, terutama jika konflik di Ukraina berakhir sesuai keinginan Moskow. Sementara itu, sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kritis terhadap NATO mendorong negara-negara Eropa untuk lebih mandiri dalam pertahanan.
Belanda merespons tantangan ini dengan strategi perekrutan sukarela yang masif. Kampanye dilakukan melalui berbagai saluran, sementara foto Ratu Máxima berlatih menembak dan bergerak di lapangan latihan menjadi sorotan internasional. Hasilnya, jumlah aplikasi pendaftaran cadangan melonjak tajam, hingga melebihi kapasitas pelatihan dan penyediaan perlengkapan yang tersedia.
Baca juga : Rutinitas Mulia di Jatipurno: Unit Donor Darah PMI Wonogiri Konsisten Gelar Kegiatan Donor Sukarela
Sekretaris Negara Pertahanan Derk Boswijk mengakui situasi ini sebagai “masalah mewah”. “Kami memiliki lebih banyak peminat daripada yang bisa kami tangani saat ini. Tantangannya adalah menyediakan pelatihan, tempat tinggal, seragam, dan senjata bagi semua yang mendaftar,” katanya.
Berbeda dengan negara tetangga seperti Finlandia, Swedia, dan Denmark yang masih menerapkan wajib militer dalam bentuk tertentu, Belanda memilih jalur sukarela sepenuhnya. Wajib militer memang pernah ada, tetapi panggilan dinas telah ditangguhkan sejak 1997. Kini, Kementerian Pertahanan berupaya menarik generasi muda dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang memiliki keahlian di bidang siber, teknologi informasi, dan bahkan dunia digital.
Salah seorang calon cadangan, Lisette den Heijer, mengaku terdorong oleh pelajaran sejarah. “Di sekolah dasar dulu kami diajarkan bahwa Belanda jatuh hanya dalam lima hari pada Perang Dunia II. Saya tidak ingin sejarah itu terulang,” ujarnya.
Para cadangan di Belanda biasanya berkomitmen 300 jam dinas per tahun, terutama untuk menjaga infrastruktur vital, mendukung operasi keamanan dalam negeri, dan siap dikerahkan saat darurat nasional seperti banjir besar. Mereka tidak dikirim ke misi tempur luar negeri.
Analis pertahanan melihat fenomena ini sebagai bagian dari tren yang lebih luas di Eropa: kesadaran bahwa keamanan kontinen tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada sekutu trans-Atlantik. Partisipasi keluarga kerajaan memberikan legitimasi simbolis sekaligus emosional yang sulit dicapai melalui kampanye biasa.
Dengan semakin dekatnya target 20.000 anggota cadangan pada 2030, Belanda tampaknya sedang membangun fondasi pertahanan yang lebih tangguh — bukan hanya dengan senjata dan latihan, tetapi juga dengan semangat kolektif masyarakat yang kembali terbangunkan.
Pewarta : Setiawan Wibisono


