RI News Portal. Jakarta, 18 Desember 2025 – Kebiasaan menyikat gigi sering kali dianggap sebagai rutinitas sederhana yang dilakukan secara singkat di pagi dan malam hari. Namun, para pakar periodontologi menekankan bahwa durasi menyikat gigi memainkan peran lebih krusial dibandingkan intensitas atau kekuatan gosokan.
Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D., Guru Besar Ilmu Periodonsia dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, menyatakan bahwa waktu ideal untuk menyikat gigi adalah dua menit penuh. Durasi ini memastikan pembersihan menyeluruh pada semua permukaan gigi, termasuk bagian dalam yang berhubungan dengan lidah serta permukaan kunyah yang sering terlewat.
“Dua menit bukan sekadar angka acak, melainkan waktu yang cukup untuk membersihkan secara sistematis,” ujar Prof. Amaliya dalam sebuah forum diskusi kesehatan mulut baru-baru ini. Ia merekomendasikan teknik menyikat per kelompok tiga gigi, dimulai dari bagian belakang menuju depan, sambil menghitung secara perlahan untuk memastikan setiap area terjangkau. Pendekatan ini tidak hanya menghilangkan plak, tetapi juga memberikan efek pijat lembut pada gusi, yang mendukung kesehatan jaringan lunak di sekitar gigi.

Menurut Prof. Amaliya, menyikat gigi dengan tekanan berlebih atau “vigorous” justru berisiko menyebabkan abrasi pada enamel gigi, yaitu pengikisan lapisan keras permukaan gigi yang bersifat permanen. Hal serupa terjadi pada gusi, di mana gosokan kasar dapat menimbulkan luka atau resesi (mundur) gusi.
Ia juga menyarankan frekuensi menyikat cukup dua kali sehari: setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Penting untuk menghindari menyikat gigi segera setelah mengonsumsi makanan atau minuman asam, karena asam dapat melembutkan enamel sementara, sehingga gosokan langsung berpotensi mempercepat erosi—mirip proses pengikisan tanah oleh air asam.
Di luar teknik mekanis, Prof. Amaliya menyoroti peran pola makan dalam pencegahan masalah gigi dan gusi. Membatasi asupan gula, garam, dan lemak berlebih sambil mengutamakan “real food” alami dapat mengurangi risiko peradangan dan karies.
Nutrisi seperti vitamin C, vitamin E, dan zinc berfungsi sebagai antioksidan yang memperkuat gusi sebagai penyangga gigi. “Kembali ke makanan alami, seperti menggunakan madu sebagai pemanis alami dan memproses bahan secara minimal, terbukti meningkatkan kesehatan periodontal,” tambahnya.
Pesan utama dari ahli ini adalah bahwa kebersihan mulut optimal tidak memerlukan usaha berlebih, melainkan konsistensi pada durasi dan teknik yang benar, dikombinasikan dengan pilihan makanan sehat. Dengan demikian, masyarakat dapat mencegah masalah periodontal yang sering muncul akibat kebiasaan sehari-hari yang keliru.
Pewarta : Yudha Purnama

