RI News Portal. Jakarta 30 Desember 2025 – Beijing menyatakan dukungan penuh terhadap hasil pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang bertujuan mencapai perdamaian di Ukraina. Langkah ini mencerminkan posisi konsisten China sebagai aktor yang mempromosikan dialog multilateral dalam menyelesaikan konflik geopolitik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutin di Beijing pada 29 Desember 2025, menegaskan bahwa “China mendukung segala upaya yang berkontribusi pada penyelesaian damai krisis Ukraina.” Ia mengharapkan para pihak terkait dapat segera mencapai kesepakatan perdamaian yang adil, berkelanjutan, dan mengikat melalui negosiasi. Pernyataan ini disampaikan sehari setelah pertemuan Trump-Zelensky di Mar-a-Lago, Florida, pada 28 Desember 2025, yang diikuti dengan kemajuan signifikan meskipun isu-isu krusial masih tertunda.
Pertemuan tersebut menghasilkan optimisme dari kedua pemimpin. Trump menyebut kesepakatan damai “semakin dekat,” dengan estimasi bahwa sebagian besar elemen keamanan telah mencapai sekitar 95 persen kesepakatan. Zelensky, di sisi lain, menyatakan bahwa kerangka perdamaian 20 poin yang dibahas telah mencapai 90 persen kesiapan, seraya menekankan diskusi mendalam mengenai aspek keamanan, zona demiliterisasi, pengelolaan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, serta status wilayah Donbas timur.

Sebelum bertemu Zelensky, Trump mengadakan pembicaraan telepon panjang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, keduanya sepakat bahwa penyelesaian jangka panjang lebih unggul daripada gencatan senjata sementara. Putin menyetujui pembentukan dua kelompok kerja bilateral AS-Rusia: satu untuk isu keamanan dan satu lagi untuk aspek ekonomi. Parameter kelompok kerja ini dijadwalkan dibahas lebih lanjut pada awal Januari 2026.
Posisi China dalam konflik ini tetap netral namun konstruktif. Sejak awal krisis, Beijing mempertahankan komunikasi intensif dengan semua pihak, termasuk Rusia dan Ukraina, sambil mendorong gencatan senjata dan negosiasi. Lin Jian menambahkan bahwa upaya China telah memberikan kontribusi nyata, dan negara tersebut akan terus berperan positif dalam mendorong perdamaian.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan adanya kesepahaman dengan Washington bahwa Ukraina harus kembali ke status netral, non-blok, dan bebas senjata nuklir—prinsip yang tertanam dalam deklarasi kedaulatan Ukraina pasca-Uni Soviet. Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz pada 15 Desember 2025 mengumumkan kesepakatan Uni Eropa dan AS untuk memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina yang mirip dengan Pasal 5 NATO, meskipun detail implementasinya masih dalam pembahasan.
Baca juga : Dugaan Kekerasan dan Pemerasan di Rutan Kebumen Dibantah Dua Saksi Langsung
Meskipun kemajuan diplomatik terlihat, tantangan utama tetap pada isu teritorial, khususnya Donbas, serta sequencing gencatan senjata dan jaminan keamanan pasca-perdamaian. Analis internasional menilai bahwa dukungan China terhadap proses ini dapat memperkuat legitimasi multilateral, terutama di tengah dinamika bipolar antara Barat dan Rusia. Proses negosiasi dijadwalkan berlanjut pada awal 2026, dengan potensi pertemuan lanjutan melibatkan pemimpin Eropa dan kelompok kerja baru.
Perkembangan ini menandai fase krusial dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun, di mana diplomasi intensif AS menjadi katalisator utama, didukung oleh aktor global seperti China yang menekankan penyelesaian damai berbasis dialog.
Pewarta : Setiawan Wibisono

