RI News Portal. Palm Beach, Florida – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 28 Desember 2025 menegaskan komitmennya untuk mengakhiri konflik di Ukraina tanpa menetapkan batas waktu tertentu. Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di kediaman pribadinya di Florida, Trump menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah “mengakhiri perang ini”, sambil menolak spekulasi mengenai target penyelesaian pada akhir tahun.
“Saya tidak memiliki tenggat waktu spesifik. Tenggat waktu saya hanyalah mengakhiri perang ini,” ujar Trump kepada wartawan saat menyambut Zelensky. Ia mengakui bahwa elemen-elemen untuk mencapai kesepakatan sudah mulai terlihat, meskipun konflik tersebut terbukti rumit dan sulit diselesaikan. Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar dua setengah jam, dihadiri oleh delegasi dari kedua negara, termasuk pejabat tinggi AS seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan utusan khusus Steve Witkoff.
Zelensky, dalam pernyataannya, menekankan fokus pembahasan pada draf terbaru rencana perdamaian yang terdiri dari 20 poin, termasuk urutan langkah-langkah implementasinya. “Sangat krusial bagi tim kami untuk mendiskusikan strategi – bagaimana melangkah secara bertahap dan mendekatkan perdamaian,” kata Zelensky. Ia menyatakan bahwa sekitar 90 persen dari kerangka kesepakatan telah disetujui oleh negosiator AS dan Ukraina, dengan kemajuan signifikan pada jaminan keamanan pasca-konflik.

Sebelum pertemuan dengan Zelensky, Trump mengumumkan bahwa ia telah melakukan pembicaraan telepon yang “baik dan sangat produktif” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut ajudan Kremlin Yuri Ushakov, kedua pemimpin sepakat bahwa gencatan senjata sementara – seperti yang diusulkan oleh Ukraina dan sekutu Eropanya, termasuk untuk mempersiapkan referendum – hanya akan memperpanjang konflik dan berpotensi memicu eskalasi kembali. Ushakov menambahkan bahwa pandangan kedua presiden secara umum serupa mengenai risiko tersebut.
Agenda pembahasan di Florida mencakup isu-isu sensitif seperti kemungkinan perjanjian gencatan senjata permanen, pembentukan zona demiliterisasi, pengelolaan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang saat ini dikuasai Rusia, kendali atas wilayah Donbas, serta mekanisme jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina. Trump menyatakan bahwa kedua belah pihak – Ukraina dan Rusia – menunjukkan kemauan untuk mencapai kesepakatan, meskipun beberapa “masalah rumit” seperti status teritorial masih belum terselesaikan.
Dari perspektif akademis hubungan internasional, pertemuan ini mencerminkan pendekatan diplomasi shuttle yang intensif oleh AS sebagai mediator utama, di tengah dinamika kekuatan yang tidak seimbang. Upaya Trump untuk menyeimbangkan komunikasi langsung dengan kedua pihak konflik menunjukkan strategi realpolitik yang menitikberatkan pada negosiasi langsung antar pemimpin besar, sambil menghindari komitmen militer jangka panjang AS. Namun, tantangan utama tetap pada rekonsiliasi posisi maksimalis Rusia dengan prinsip integritas teritorial Ukraina, yang didukung oleh norma hukum internasional pasca-Perang Dingin.
Kedua pemimpin menyatakan optimisme bahwa kemajuan dapat dicapai dalam beberapa minggu mendatang, dengan kemungkinan pertemuan lanjutan melibatkan pemimpin Eropa. Meskipun demikian, absennya terobosan langsung pada isu teritorial mengindikasikan bahwa proses penyelesaian masih memerlukan kompromi signifikan dari semua pihak.
Pewarta : Setiawan Wibisono

