RI News. Washington 25 Maret 2026 — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dijadwalkan tiba di Prancis pekan ini untuk menghadiri pertemuan menteri luar negeri Kelompok Tujuh (G7) di dekat Versailles. Kunjungan ini menjadi upaya penting Washington untuk mendapatkan dukungan dari sekutu-sekutu Eropa dan Asia yang masih ragu terhadap pendekatan militer AS-Israel di Iran, di tengah lonjakan harga minyak dunia yang semakin tidak terkendali.
Pertemuan yang berlangsung pada Jumat mendatang itu secara resmi bertujuan membahas kepentingan strategis Amerika Serikat serta ancaman keamanan bersama, termasuk perang Rusia-Ukraina, situasi memanas di Timur Tengah, dan berbagai tantangan stabilitas global. Namun, di balik agenda resmi tersebut, fokus utama adalah meyakinkan para mitra G7 agar mendukung strategi Washington dalam konflik Iran yang telah menutup sebagian besar lalu lintas di Selat Hormuz.
Penutupan jalur perairan vital tersebut — yang menjadi arteri utama pasokan minyak dunia — telah mendorong harga bahan bakar melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Gangguan ini tidak hanya memukul perekonomian global, tetapi juga memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas, terutama bagi negara-negara importir besar seperti Jepang, Jerman, dan Italia.

Presiden Donald Trump pada Senin lalu menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melakukan pembicaraan produktif dengan pihak Iran untuk mencari resolusi damai. Namun, Teheran langsung membantah klaim tersebut, menciptakan kabut informasi yang semakin memperumit situasi. Sementara itu, beberapa negara lain dikabarkan mulai terlibat dalam upaya diplomatik untuk menemukan “jalan keluar” dari krisis ini sebelum semakin meluas.
Sikap mayoritas anggota G7 terhadap operasi militer AS-Israel di Iran terbilang dingin. Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang hingga kini menolak terlibat langsung dalam aksi militer tersebut. Penolakan ini sempat memicu kemarahan Trump, yang menuding sekutu-sekutu tradisional Amerika tidak mau membantu membuka kembali Selat Hormuz meski kepentingan ekonomi mereka juga terancam.
Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir muncul tanda-tanda pergeseran. Beberapa negara G7 dan anggota NATO menyatakan kesiapan mendukung “tindakan yang tepat” untuk memulihkan lalu lintas normal di selat tersebut, meski tanpa komitmen militer langsung. Hal ini menunjukkan adanya dinamika baru dalam diplomasi transatlantik di tengah tekanan ekonomi global yang semakin berat.
Baca juga : Diplomasi di Tengah Ledakan: Harapan Perundingan AS-Iran Retak oleh Serangan Rudal dan Krisis Selat Hormuz
Analis hubungan internasional menilai pertemuan di Versailles ini menjadi momen krusial. Di satu sisi, Amerika Serikat ingin menunjukkan kepemimpinan tegas dalam menjaga keamanan maritim global. Di sisi lain, sekutu-sekutu Eropa dan Asia lebih mengutamakan pendekatan diplomatik dan khawatir eskalasi konflik akan semakin merusak stabilitas ekonomi dunia yang sudah rapuh.
Dengan harga minyak yang sempat meroket sebelum akhirnya sedikit mereda menyusul sinyal pembicaraan AS-Iran, dunia kini menanti hasil pertemuan G7. Apakah diplomasi Rubio berhasil meredakan ketegangan dan menyatukan barisan sekutu, atau justru memperlebar jurang perbedaan pandangan di antara negara-negara industri utama? Jawabannya akan sangat menentukan arah konflik Timur Tengah ke depan dan dampaknya terhadap perekonomian global.
Berita ini disusun berdasarkan perkembangan terkini dan pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS, dengan penekanan pada implikasi ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.
Pewarta : Setiawan Wibisono

