RI News. Beijing – Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang semakin memanas pasca serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, Menteri Luar Negeri China Wang Yi melakukan serangkaian panggilan telepon intensif pada Senin malam (2/3) dengan mitranya dari Iran, Oman, dan Prancis. Langkah diplomatik ini menegaskan posisi China sebagai aktor yang konsisten menyerukan de-eskalasi dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Wang Yi menyampaikan desakan tegas kepada Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan operasi militer mereka. Menurut keterangan resmi Kementerian Luar Negeri China, tindakan tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik ke seluruh kawasan, mengancam stabilitas regional yang rapuh. Serangan yang dimulai pada 28 Februari lalu telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi militer senior, termasuk Komandan Korps Garda Revolusi Islam Mohammad Pakpour, Kepala Staf Militer Abdulrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, dan Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani. Data dari Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan korban tewas mencapai 555 jiwa akibat serangan tersebut.

Dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, Wang Yi menegaskan dukungan teguh Beijing terhadap Teheran dalam mempertahankan kedaulatan, keamanan, keutuhan wilayah, dan martabat nasionalnya. Ia menyatakan keyakinan bahwa Iran mampu menjaga stabilitas internal sambil mempertimbangkan kepentingan negara tetangga serta memastikan keselamatan warga dan aset China di wilayahnya. Araghchi, di sisi lain, menyoroti bahwa serangan AS merupakan pelanggaran hukum internasional yang melintasi “garis merah” Iran, meskipun perundingan bilateral dengan Washington sebelumnya menunjukkan kemajuan positif. Ia menegaskan bahwa Iran terpaksa melakukan pembelaan diri secara penuh.
Panggilan dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi menekankan peran mediasi aktif Muscat dalam memfasilitasi dialog Iran-AS. Wang Yi mengapresiasi upaya Oman yang dinilai bertentangan dengan tindakan AS dan Israel yang sengaja memicu perang, melanggar tujuan dan prinsip Piagam PBB. Ia menyerukan prioritas utama berupa penghentian operasi militer untuk mencegah konflik tak terkendali, sekaligus mendukung negara-negara Teluk dalam menjaga kedaulatan dan keamanan mereka. Wang Yi juga mendorong negara-negara Teluk untuk memperkuat kemandirian, menolak campur tangan asing, serta membangun solidaritas regional demi mengendalikan nasib mereka sendiri. Badr Albusaidi menyayangkan pengabaian hasil perundingan oleh AS dan Israel, menekankan perlunya gencatan senjata segera guna menghindari korban jiwa dan kerusakan lebih lanjut. Ia juga memuji peran China sebagai kekuatan positif di Dewan Keamanan PBB dan menjamin keselamatan warga China di Oman.
Baca juga : Jejak Kehancuran Mendalam: Tambang Emas Ilegal Menghancurkan Total Kawasan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri
Sementara itu, dialog dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyoroti penolakan terhadap standar ganda dalam penerapan hukum internasional. Wang Yi menegaskan bahwa negara besar tidak boleh bertindak sewenang-wenang dengan mengandalkan superioritas militer, karena hal itu berisiko mengembalikan dunia ke era “hukum rimba”. Ia berharap Prancis mempertahankan sikap objektif dan rasional, bekerja sama dengan China untuk mendorong penurunan ketegangan serta penyelesaian isu nuklir Iran melalui jalur diplomatik. Barrot menyatakan bahwa operasi militer AS-Israel tidak dikonsultasikan dengan Dewan Keamanan PBB dan tanpa otorisasi, sehingga semua pihak perlu berkolaborasi untuk de-eskalasi dan negosiasi. Prancis menghargai hubungan baik China dengan Iran dan negara Teluk, serta berharap kerjasama bilateral untuk meredakan krisis kawasan.
Di tengah kekosongan kepemimpinan di Teheran pasca kematian Khamenei dan respons balasan Iran berupa serangan drone serta rudal terhadap Israel, aset AS, dan beberapa negara Teluk—yang menewaskan tiga personel militer AS—panggilan-panggilan ini mencerminkan upaya China untuk mencegah perang regional yang lebih luas. Beijing menegaskan komitmennya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk mempromosikan perdamaian melalui diplomasi, bukan konfrontasi militer.
Pewarta : Setiawan Wibisono

