RI News. Dubai, United Arab Emirates — Konflik bersenjata antara Israel dan Iran semakin memanas dan kini mengancam stabilitas ekonomi dunia. Pada hari Rabu, Israel melanjutkan operasi targetted killing dengan berhasil menewaskan Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib dalam serangan mendadak. Tak hanya itu, sebuah ladang gas alam lepas pantai Iran yang sangat besar juga menjadi sasaran, menandakan bahwa perang kini langsung menyentuh urat nadi ekonomi kawasan: pasokan energi.
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, Iran secara agresif menyerang fasilitas energi milik negara-negara Teluk Persia tetangganya. Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut seperlima minyak dunia, kini hampir lumpuh total. Rabu kemarin, Iran kembali melancarkan serangan ke provinsi timur Arab Saudi yang kaya ladang minyak, sekaligus mengancam akan memperluas sasaran ke infrastruktur minyak dan gas Qatar serta Uni Emirat Arab.
Akibatnya, harga minyak mentah internasional langsung meroket. Harga Brent crude, patokan global, naik lagi 5 persen dan kini berada di atas 108 dolar per barel. Sejak awal perang, kenaikan sudah mencapai hampir 50 persen. Lonjakan ini langsung dirasakan konsumen di seluruh dunia melalui harga bensin dan barang-barang pokok yang terus merangkak naik.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintahan Amerika Serikat berupaya mencari solusi cepat. Departemen Keuangan AS mengumumkan pelonggaran sanksi terhadap Venezuela, membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk kembali berbisnis dengan perusahaan minyak negara Venezuela. Langkah ini jelas dimaksudkan untuk menambah pasokan minyak global dan meredam harga yang terus melambung.
Israel, di sisi lain, tak menunjukkan tanda-tanda mundur. Menteri Pertahanan Israel Katz langsung menyatakan akan ada “kejutan besar” menyusul tewasnya Menteri Intelijen Khatib. Sehari sebelumnya, Israel juga telah menyingkirkan dua tokoh penting Iran: penasihat senior Ali Larijani dan Jenderal Gholam Reza Soleimani, komandan pasukan Basij Garda Revolusi. Iran membalas dengan serangan balik ke negara-negara Teluk dan wilayah Israel, yang menewaskan dua warga sipil di dekat Tel Aviv.
Serangan terhadap ladang gas South Pars—ladang gas terbesar di dunia yang dimiliki bersama Iran dan Qatar—menimbulkan pertanyaan besar. Qatar menuding Israel sebagai pelaku, sementara Uni Emirat Arab menyebut insiden itu sebagai “eskalasi berbahaya”. Strategi Iran tampak jelas: dengan menyerang infrastruktur energi Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, Teheran berharap dapat menekan harga minyak dunia agar Amerika Serikat dan Israel mau bernegosiasi.
Selat Hormuz tetap menjadi titik panas. Iran bersikeras jalur itu masih terbuka, namun hanya untuk kapal-kapal tertentu. Beberapa kapal dari India dan Turki sempat lolos, tapi lalu lintas secara keseluruhan nyaris terhenti. Presiden AS Donald Trump menyatakan kekecewaannya karena tak ada sekutu yang mau membantu membuka kembali selat tersebut. Irak sendiri mulai mengalihkan ekspor minyaknya melalui pipa ke Turki, sementara Arab Saudi mengirim sebagian minyaknya lewat pipa darat ke pelabuhan Laut Merah.
Seorang pejabat militer senior Inggris memperingatkan bahwa membuka kembali Selat Hormuz masih akan memakan waktu lama karena ancaman ranjau, perahu serang, dan drone yang terus mengintai. Di dalam negeri Iran, Garda Revolusi mengklaim telah menembakkan rudal berkepala ganda ke wilayah tengah Israel sebagai balasan atas tewasnya Ali Larijani.

Larijani dikenal sebagai penasihat utama mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam isu nuklir. Pemimpin Tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan belasungkawa yang menegaskan bahwa pembunuhan tersebut menunjukkan betapa besarnya ancaman yang dirasakan musuh-musuh Iran. Ini hanya pernyataan kedua yang dikeluarkan atas namanya sejak menggantikan ayahnya yang gugur di awal perang.
Di Lebanon, Israel terus meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah dengan menghantam beberapa gedung apartemen di Beirut, menewaskan sedikitnya 12 orang. Hizbullah membalas dengan roket ke Israel utara. Total korban jiwa terus bertambah: lebih dari 1.300 orang tewas di Iran, 968 di Lebanon, 14 di Israel, dan setidaknya 13 personel militer Amerika Serikat.
Konflik ini semakin menunjukkan wajah baru perang modern: bukan lagi hanya pertempuran militer, melainkan juga perebutan kendali atas energi global yang berdampak langsung pada perekonomian setiap negara di dunia.
Pewarta : Setiawan Wibisono

