RI News Portal. Tapanuli Selatan 7 Desember 2025 – Hantaman banjir bandang dan longsor yang melanda Dusun Panobasan Lobuuhom, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Senin malam, 25 November 2025, tidak hanya meratakan puluhan rumah warga, tetapi juga menghancurkan satu-satunya sarana pendidikan formal di dusun terpencil itu: SDN No. 100113 Panobasan Lobuuhom.
Bangunan sekolah yang berdiri sejak puluhan tahun lalu itu kini tinggal puing. Tiga ruang kelas ambruk total, satu ruang guru lenyap, empat bilik kamar mandi hancur, gudang sekolah rata dengan tanah, bahkan rumah dinas kepala sekolah ikut tertimbun material longsor. Ribuan buku pelajaran, meja-kursi, lemari, dan arsip stambuk sekolah lenyap ditelan lumpur.
“Yang tersisa hanya empat ruang kelas yang masih berdiri, itupun retak parah dan berbahaya jika dipakai. Lagipula, semua akses jalan menuju sekolah sudah terputus total oleh longsor,” ungkap Dameria Telaumbanua, S.Pd., Kepala SDN 100113 Panobasan Lobuuhom, saat ditemui di lokasi sekolah pada Sabtu (6/12/2025).

Trauma yang masih membekas pada siswa dan guru membuat aktivitas belajar mengajar sama sekali tidak mungkin dilakukan di gedung sekolah. Sejak Selasa pekan lalu, proses pembelajaran terpaksa dipindahkan ke tenda biru bantuan darurat yang didirikan di lahan kosong berjarak sekitar 800 meter dari lokasi sekolah asli.
“Anak-anak banyak yang belum punya seragam lagi, buku dan alat tulis juga habis semua terbawa banjir. Kami hanya bisa bertahan dengan apa yang ada,” kata Dameria dengan suara bergetar namun tetap teguh.
Di tenda berukuran 6×8 meter itu, 127 siswa kelas I sampai VI kini belajar dalam satu ruangan yang sama, tanpa papan tulis layak, tanpa kursi, hanya beralas terpal dan tikar seadanya. Guru-guru bergantian mengajar dengan pengeras suara kecil bantuan warga setempat.
Sementara itu, orang tua murid mengaku kehilangan segalanya. Yusman Harefa (42), warga yang rumahnya ludes tertimbun longsor, mengatakan anak-anaknya kini bahkan tidak memiliki pakaian ganti untuk berangkat sekolah.
Baca juga : Dugaan Penyimpangan PTSL di Desa Kawengen: Pungli, Manipulasi Dokumen, dan Konflik Kepentingan Panitia Desa
“Rumah kami habis, buku-buku anak, tas, sepatu, seragam, semuanya lenyap. Kami hanya bisa mengandalkan bantuan pakaian layak pakai dari tetangga yang juga sama-sama jadi korban. Kami mohon kepada Bapak Bupati Tapanuli Selatan dan Kepala Dinas Pendidikan agar segera melihat kondisi anak-anak kami. Bulan Desember ini mereka sudah harus menghadapi ujian semester, tapi dalam kondisi begini bagaimana mungkin?” tutur Yusman dengan mata berkaca-kaca.
Hingga hari ini, Minggu (7/12/2025), belum ada satupun pejabat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan yang datang meninjau langsung lokasi sekolah yang hancur tersebut, menurut keterangan para guru dan warga setempat.

Proses belajar mengajar di bawah tenda biru rencananya akan terus berlangsung hingga ada kepastian perbaikan gedung atau relokasi sekolah. Namun tanpa intervensi cepat dari pemerintah kabupaten, ratusan anak di dusun terisolasi ini terancam kehilangan hak pendidikannya di tengah puing-puing bencana.
Di tengah keputusasaan, Dameria Telaumbanua tetap menyuarakan harapan: “Anak-anak ini masa depan dusun kami. Jangan biarkan mereka putus sekolah hanya karena bencana. Kami butuh uluran tangan secepatnya.”
Pewarta : Adi Tanjoeng

