RI News Portal. Tegal 24 Januari 2026 – Kawasan wisata alam Guci di Kabupaten Tegal kembali menjadi saksi banjir bandang dahsyat pada Sabtu malam (24/1/2026). Hujan deras yang mengguyur lereng Gunung Slamet selama dua hari berturut-turut memicu aliran air bah besar di Sungai Kaligung, menyapu segala yang dilaluinya dengan kekuatan luar biasa.
Bencana ini menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah ikon utama kawasan wisata. Pancuran 13—sumber air panas alami yang baru saja direvitalisasi—dilaporkan hilang sepenuhnya, terseret arus deras bersama material lumpur, batu, dan kayu dari hulu. Kolam Renang Barokah yang menjadi salah satu daya tarik utama rusak berat hingga nyaris tak berbentuk lagi. Patung naga legendaris yang selama ini menjadi spot foto favorit pengunjung pun lenyap diterjang banjir.
Tak hanya fasilitas wisata, infrastruktur pendukung pun ambruk. Jembatan penghubung utama di kawasan tersebut hancur lebur, memutus akses menuju sejumlah titik populer. Debit air yang melonjak drastis dalam hitungan jam disertai suara gemuruh keras membuat warga setempat membandingkannya dengan longsor besar.

“Air datang tiba-tiba sekali, langsung menghantam semuanya. Suaranya seperti ada yang runtuh dari atas gunung,” cerita seorang warga Desa Guci yang berada di dekat lokasi saat kejadian.
Peristiwa ini bukan yang pertama kali. Baru sebulan lebih sebelumnya, akhir Desember lalu, banjir serupa sudah menerjang kawasan yang sama. Namun, skala banjir kali ini jauh lebih masif, dengan ketinggian air dilaporkan mencapai level ekstrem dan dampak yang lebih luas. Kejadian berulang ini semakin menguatkan sorotan terhadap kerentanan hidrometeorologi di lereng Gunung Slamet.
Para pengamat dan masyarakat setempat menilai, banjir bandang ini bukan sekadar musibah alam biasa, melainkan sinyal kuat perlunya evaluasi mendalam terhadap tata kelola lingkungan di kawasan tersebut. Alih fungsi lahan, degradasi tutupan hutan sebagai penyangga alam, serta sistem mitigasi bencana yang masih lemah menjadi persoalan mendasar yang berulang kali diabaikan. Hilangnya vegetasi di hulu sungai diyakini mempercepat limpasan air dan membawa material destruktif ke bawah.
Baca juga : Banjir Bandang dan Angin Kencang Melanda Purbalingga
“Momentum ini harus dijadikan titik balik. Jika tidak segera direvisi, bukan hanya wisata yang terancam hilang, tapi keselamatan jiwa warga sekitar juga di ujung tanduk,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebut namanya.
Pihak berwenang dan pengelola wisata kini dihadapkan pada tantangan besar: merestorasi infrastruktur sekaligus membangun ketahanan jangka panjang terhadap bencana serupa. Sementara itu, kawasan Guci sementara ditutup untuk umum guna memastikan keselamatan dan memulai proses pendataan kerusakan secara menyeluruh.
Bencana ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keindahan alam lereng Slamet yang selama ini menjadi magnet wisatawan harus dijaga dengan pendekatan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Pewarta: Ikhwanudin

