RI News. Istanbul – Otoritas Turki berhasil menggagalkan serangan bersenjata di luar gedung yang menampung Konsulat Israel di kawasan Levent, distrik bisnis utama Istanbul, pada Selasa (7 April 2026). Insiden tersebut menewaskan satu pelaku, melukai dua pelaku lainnya, serta menyebabkan dua petugas polisi mengalami luka ringan.
Menurut keterangan resmi Menteri Dalam Negeri Turki Mustafa Ciftci, tiga orang bersenjata melepaskan tembakan ke arah petugas polisi yang berjaga di sekitar lokasi. Baku tembak berlangsung singkat namun intens, hingga satu pelaku tewas di tempat. Dua pelaku lainnya berhasil ditangkap dalam kondisi terluka dan langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis di bawah pengawasan ketat.
Kedua pelaku yang tertangkap adalah saudara kandung bernama Onur C. dan Enes C. Onur C. diketahui memiliki catatan kriminal terkait kasus narkotika. Para pelaku disebutkan datang dari Kota Izmit di Provinsi Kocaeli menggunakan mobil sewaan sebelum melakukan aksinya.

Hingga Rabu (8 April 2026), polisi telah menahan sembilan tersangka tambahan dalam operasi penyisiran di Istanbul, Konya, dan Kocaeli. Semua tersangka, termasuk dua pelaku yang terluka, sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh aparat penegak hukum.
Menteri Ciftci menyatakan bahwa salah satu pelaku memiliki kaitan dengan kelompok yang “memanfaatkan agama” untuk kepentingan tertentu, meski belum disebutkan nama organisasi secara spesifik. Di masa lalu, Turki pernah menjadi target serangan mematikan oleh kelompok ekstremis seperti ISIS, sehingga insiden ini langsung memicu kekhawatiran akan kemungkinan motif serupa.
Konsulat Israel di Istanbul saat itu dalam keadaan kosong. Israel telah menarik seluruh diplomatnya dari Turki sejak awal perang Gaza karena alasan keamanan dan memburuknya hubungan bilateral dengan Ankara. Gedung konsulat pun ditutup untuk kegiatan operasional sehari-hari.
Baca juga : Serangan Mendadak Israel di Jantung Beirut: Eskalasi Berbahaya di Tengah Harapan Gencatan Senjata Regional
Kementerian Luar Negeri Israel segera mengeluarkan pernyataan yang mengutuk keras serangan tersebut. Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada otoritas Turki atas respons cepat yang berhasil mencegah korban jiwa lebih banyak dan potensi kekerasan yang lebih luas.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi di Timur Tengah. Hubungan Turki-Israel yang sempat membaik di masa lalu kembali memburuk pasca-perang Gaza, meski kedua negara tetap menjaga jalur komunikasi di tingkat keamanan. Serangan ini juga mengingatkan publik pada rentetan aksi militan di Turki beberapa tahun terakhir, yang kerap menargetkan simbol-simbol asing atau aparat keamanan.
Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap motif pasti, jaringan pendukung, serta kemungkinan kaitan dengan kelompok radikal. Pemerintah Turki menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah metropolitan Istanbul yang menjadi pusat ekonomi dan bisnis internasional.
Pihak berwenang terus memantau situasi dan meningkatkan pengamanan di sekitar objek-objek vital, termasuk perwakilan diplomatik asing di wilayah tersebut.
Pewarta : Setiawan Wibisono

