RI News Portal. Beirut — Di malam yang dingin pada 8 Januari lalu, jalan-jalan di Karaj, kota satelit Tehran, dipenuhi sorak sorai keberanian. Seorang perempuan berusia 37 tahun, yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi kecantikan, berdiri di tengah kerumunan sambil merekam dengan ponselnya. Suara tembakan memecah udara, gas air mata beterbangan, namun ia tetap berteriak, “Jangan takut! Kita semua bersama!” Ribuan orang menjawab seruannya, menyanyikan “Mati bagi diktator!” dengan suara menggelegar.
Kurang dari sebulan kemudian, perempuan yang sama nyaris tak pernah keluar dari rumah ibunya. Ia mengonsumsi obat penenang untuk bisa tidur beberapa jam, tapi mimpi buruk terus datang. “Orang-orang di jalan seperti mayat berjalan,” tulisnya dalam pesan pribadi. “Mereka sudah kehilangan harapan.”
Kisahnya bukan sekadar cerita pribadi. Ia mencerminkan perubahan drastis yang dialami masyarakat Iran setelah gelombang protes terbesar sejak Revolusi 1979. Demonstrasi yang dimulai akhir Desember akibat runtuhnya nilai rial itu dengan cepat berubah menjadi gerakan nasional yang menantang fondasi kekuasaan teokrasi. Dalam hitungan hari, ratusan kota di seluruh negeri dipenuhi pengunjuk rasa dari berbagai lapisan sosial—sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah protes Iran modern.

Euforia awal terasa nyata. Video-video amatir menunjukkan massa berjalan tanpa rasa takut, menyalakan api unggun, bahkan menyanyikan nama figur oposisi yang selama ini tabu disebut. Perempuan tanpa jilbab berdiri berdampingan dengan laki-laki dan anak-anak. Untuk sesaat, tampaknya perubahan benar-benar mungkin.
Namun, respons rezim jauh lebih brutal daripada yang diperkirakan banyak orang. Pada 8 dan 9 Januari, penembakan massal terjadi di berbagai kota. Kelompok pemantau independen memperkirakan ribuan orang tewas—angka yang jauh melampaui korban protes-protes sebelumnya. Pemutusan internet total selama berminggu-minggu membuat dunia luar sulit memahami skala kekerasan yang sebenarnya.
Dampaknya kini terasa dalam keheningan yang mencekam. Banyak pengunjuk rasa yang selamat memilih mengurung diri. Ketakutan akan penangkapan malam hari membuat warga saling berjanji untuk tidak membukakan pintu bagi orang asing. Trauma kolektif ini bukan sekadar rasa takut biasa; ia telah mengubah cara orang berinteraksi, bermimpi, bahkan merencanakan masa depan.
Baca juga : Mengawal Fondasi Bangsa: Program Makan Bergizi Gratis di Wonosobo dan Komitmen Pengawasan Ketat
Perempuan teknisi kecantikan itu dulunya percaya bahwa gerakan rakyat bisa mengubah negaranya. Ia pernah ikut demonstrasi 2022 pasca-kematian Mahsa Amini, meski kemudian kecewa dengan kekerasan yang menyusul. Kali ini, ia bergabung lagi karena tak lagi mampu membeli kebutuhan dasar—penghasilannya menyusut drastis akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kini, ia hanya ingin selamat.
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan pola yang berulang dalam sejarah Iran kontemporer: ledakan harapan diikuti penindasan keras yang meninggalkan luka psikologis mendalam. Bedanya, kali ini skala kerusakan sosial tampak lebih luas. Generasi yang tumbuh dengan akses internet kini mengalami pemutusan total dari dunia luar, sementara ingatan akan tembakan di jalanan masih segar.
Di tengah negosiasi nuklir yang kembali hangat dan ancaman sanksi baru, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah pengorbanan ribuan nyawa ini akan membawa perubahan, atau justru memperkuat cengkeraman kekuasaan yang ada? Bagi mereka yang kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan, jawaban atas pertanyaan itu terasa semakin jauh.
Pewarta : Setiawan Wibisono

