RI News. Jakarta – Beberapa pekan lalu, India tampak berada di puncak keberuntungan ekonominya. Negara ini menjadi salah satu raksasa ekonomi yang tumbuh paling pesat, meninggalkan China jauh di belakang. India telah melompati Inggris sebagai ekonomi terbesar kelima dunia dan tinggal selangkah lagi menggeser Jepang dari posisi keempat. Di tengah gejolak global—perang Ukraina, perang dagang Amerika, dan ketidakpastian lainnya—India dianggap sebagai tempat berlindung yang aman berkat tenaga kerja terampil, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta cadangan devisa yang kokoh.
Namun, keunggulan yang selama ini kurang disorot kini berbalik menjadi beban berat: hubungan dagang dan ketenagakerjaan India yang sangat erat dengan negara-negara Teluk Persia. Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah menciptakan badai sempurna yang menggoyang fondasi perekonomian India dari berbagai arah sekaligus.
Timur Tengah menyumbang hampir 40 persen impor minyak dan 80 persen impor gas India. Ketika harga energi melambung tinggi akibat konflik, gelombang kenaikan biaya ini menyebar ke seluruh lapisan ekonomi. Pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang selama ini terkendali kini berada di ambang bahaya. Pasar ekspor India ke kawasan Teluk—yang menjadi salah satu tumpuan utama—juga terancam. Gangguan rute penerbangan, pelayaran, dan operasi bisnis di pusat-pusat seperti Dubai bisa memutus rantai distribusi global barang-barang India.

Lebih dari itu, India adalah penerima remitansi terbesar di dunia. Sekitar 40 persen dari aliran uang pekerja migran berasal dari Timur Tengah. Setiap penurunan pendapatan para pekerja ini langsung berdampak pada nilai rupee yang sudah mulai melemah. Analis di Goldman Sachs pekan lalu menyatakan bahwa India kini menghadapi kombinasi pertumbuhan lebih lambat, inflasi lebih tinggi, dan mata uang yang semakin rapuh. Pasar saham India pun sudah merosot sekitar 10 persen dalam sebulan terakhir.
Sejak krisis minyak 1970-an, India sangat bergantung pada pasokan melalui Selat Hormuz—jalur sempit yang mengangkut seperlima minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di selat ini berpotensi menghancurkan neraca keuangan India. Kekurangan gas memasak sudah terasa di rumah tangga. Pemerintah memang bisa menahan harga bahan bakar dengan memangkas pajak atau menambah subsidi, tetapi langkah tersebut hanya akan menambah beban fiskal jangka panjang.
Perdana Menteri Narendra Modi diperkirakan akan berusaha keras menjaga stabilitas harga menjelang pemilihan negara bagian April mendatang. Pemerintahnya sudah bergerak cepat: mendapatkan izin Amerika untuk membeli minyak Rusia yang terdampar, serta bernegosiasi dengan Iran agar dua kapal tanker gas bisa lolos dengan aman. Namun, ketika harga minyak dunia melampaui 100 dolar per barel, tekanan terhadap India yang mengimpor 90 persen minyak mentahnya akan semakin tak tertahankan.
Baca juga : Drone Murah Ukraina Mengubah Matematika Pertahanan Udara: Dari Medan Perang ke Diplomasi Global
Sebuah catatan riset dari bank Australia ANZ menyebutkan bahwa meski India mulai dari posisi kuat dengan pertumbuhan tinggi dan inflasi rendah, “kemampuannya menghadapi guncangan energi yang berkepanjangan akan benar-benar diuji”. Baik perusahaan minyak, pemerintah, maupun rumah tangga India dinilai tidak memiliki cadangan keuangan yang cukup kuat untuk bertahan lama.
Ekonom Rathin Roy dari Universitas GITAM di Hyderabad menegaskan bahwa India harus mengawasi neraca pembayarannya dengan ekstra hati-hati. Impor menjadi lebih mahal persis saat ekspor terganggu. Cadangan devisa yang saat ini masih kuat bisa menyusut hingga separuh dalam waktu satu tahun saja.
Ironisnya, baru empat hari sebelum perang pecah, India dan negara-negara Teluk Arab merayakan kesepakatan perdagangan bebas. India mengekspor beragam barang mulai dari elektronik, tekstil, permata, beras basmati, hingga bahan bakar olahan. Separuh dari ekspor senilai 50 miliar dolar ke Uni Emirat Arab bahkan disalurkan lagi ke Pakistan, Afghanistan, dan Afrika. Sekitar 10 juta warga India tinggal dan bekerja di enam negara Teluk. Hubungan kedua kawasan ini begitu dalam hingga seorang diplomat senior India, Talmiz Ahmad, menyebut bahwa “hampir setiap proyek di Teluk menyisakan jejak tangan India”.

Dari ujung spektrum ekonomi, cerita ini juga menyentuh manusia. Taipan Mukesh Ambani membeli vila mewah di Palm Jumeirah Dubai dengan harga rekor. Di sisi lain, jutaan buruh migran India hidup jauh dari keluarga selama bertahun-tahun, mengirim pulang 50 hingga 70 persen penghasilannya. Tahun lalu, remitansi India mencapai hampir 130 miliar dolar—hampir setara dengan pengeluaran impor minyak negara itu.
Seorang pekerja konstruksi India di Qatar menceritakan pengalamannya dengan suara bergetar. Ia mendengar ledakan dan melihat kamp-kamp buruh di dekatnya terbakar akibat rudal. Namun, kekhawatirannya yang terbesar bukan keselamatan diri, melainkan keluarganya di Uttar Pradesh yang bergantung pada kiriman uangnya. “Kami hanya ingin perang ini segera berakhir agar pekerjaan bisa kembali normal,” katanya. Ia bahkan sempat memikirkan pulang kampung, tapi takut tidak akan pernah dipekerjakan lagi.
Krisis ini mengingatkan kita bahwa di era ketergantungan global, keberhasilan satu negara bisa rapuh dalam sekejap. India yang semula dianggap “cerita sukses” kini menghadapi ujian terberat: apakah momentum emasnya akan bertahan, atau justru tenggelam dalam badai yang berasal dari Selat Hormuz?
Pewarta : Setiawan Wibisono

