RI News Portal. Jakarta, 18 Januari 2026 – Data terbaru Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa hingga pertengahan Januari 2026, sebanyak 1.236 perusahaan industri telah memulai produksi komersial pertamanya sepanjang tahun ini. Perusahaan-perusahaan tersebut secara langsung menyerap 218.892 tenaga kerja baru, menjadi salah satu indikator paling konkret bahwa sektor manufaktur Indonesia tetap resilien meskipun dunia masih bergulat dengan volatilitas geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan perlambatan pertumbuhan di sejumlah ekonomi besar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa keberhasilan ribuan perusahaan tersebut rampung konstruksi pada 2025 dan langsung beroperasi pada 2026 mencerminkan kekuatan struktural sektor riil nasional. “Di saat banyak negara mengalami kontraksi manufaktur, Indonesia justru berhasil mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari pondasi yang telah kita bangun bertahun-tahun,” ujarnya.
Investasi yang mengalir ke sektor industri pengolahan nonmigas sepanjang 2025-2026 mencapai angka luar biasa Rp551,88 triliun, dengan nilai investasi mesin, peralatan, dan teknologi (diluar tanah dan bangunan) sebesar Rp444,25 triliun. Kapitalisasi sebesar itu kini bertransformasi menjadi kapasitas produksi baru yang langsung memperkuat rantai pasok domestik dan menciptakan multiplier effect ketenagakerjaan.

Pada 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas sebesar 5,51 persen—angka yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan dalam lima tahun terakhir. Target ini bukan sekadar angka administratif, melainkan cerminan strategi yang semakin matang dalam mengoptimalkan dua sisi fundamental pertumbuhan industri: supply dan demand.
Dari sisi permintaan, sekitar 80 persen output industri manufaktur nasional tetap diserap pasar domestik. Kekuatan ini dijaga melalui kombinasi kebijakan substitusi impor yang agresif, penegakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), prioritas belanja pemerintah dan BUMN pada produk lokal, serta integrasi industri kecil dan menengah ke dalam global value chain nasional. “Kami ingin produk Indonesia benar-benar menjadi tuan di negerinya sendiri. Pasar domestik yang besar dan stabil adalah jangkar paling kokoh bagi pertumbuhan manufaktur berkelanjutan,” tegas Agus.
Sementara itu, kontribusi ekspor sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional pada 2026—proporsi tertinggi dalam sejarah Republik. Diversifikasi pasar, peningkatan standar mutu, dan diplomasi ekonomi yang lebih intensif menjadi tiga pilar utama pencapaian target tersebut.
Baca juga : Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan
Dari perspektif ketenagakerjaan, sektor ini diproyeksikan menyerap 14,68 persen dari total angkatan kerja nasional pada akhir 2026 dengan produktivitas rata-rata Rp126,2 juta per pekerja per tahun. Untuk mendukung ekspansi tersebut, realisasi investasi tahun 2026 ditargetkan melonjak menjadi Rp852,9 triliun—kenaikan hampir 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Yang menarik, di tengah kompleksitas tantangan global, Kementerian Perindustrian meluncurkan Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) sebagai grand design kebijakan jangka panjang. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang cenderung sektoral, SBIN mengedepankan pendekatan forward-backward linkage secara simultan: memperkuat industri hulu (bahan baku dan intermediate goods) sekaligus mendorong industri hilir berbasis nilai tambah tinggi dan jasa pendukung.
Pendekatan ini secara eksplisit dirancang untuk mendukung agenda prioritas nasional, termasuk swasembada pangan, transisi energi hijau, penguatan industri strategis, hingga penyediaan industri pendukung program Makan Bergizi Gratis dan ekosistem layanan kesehatan nasional. Dengan kata lain, kebijakan industri tidak lagi diposisikan sebagai domain teknokratik semata, melainkan instrumen strategis penciptaan kesejahteraan rakyat secara langsung.

Subsektor yang diprediksi mengalami akselerasi signifikan pada 2026 antara lain industri logam dasar—didongkrak proyek infrastruktur dan hilirisasi mineral—industri makanan dan minuman yang tetap menjadi kontributor terbesar PDB manufaktur, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang mendapat dorongan dari kesadaran kesehatan pasca-pandemi dan kebutuhan bahan kimia industri.
Dengan seluruh indikator tersebut, Kementerian Perindustrian menyatakan optimisme yang berdasar kuat: sektor manufaktur nasional tidak hanya akan tumbuh di atas lima persen sepanjang 2026, tetapi juga semakin kokoh sebagai tulang punggung perekonomian, penyerap tenaga kerja terbesar, dan penghela utama peningkatan daya saing bangsa di panggung global.
Di saat banyak negara masih berjuang keluar dari jebakan middle-income atau ancaman deindustrialisasi prematur, Indonesia justru menunjukkan arah sebaliknya: reindustrialisasi yang terakselerasi, berbasis teknologi, inklusif, dan berkelanjutan. Momentum yang tercipta pada awal 2026 ini bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata bahwa visi Indonesia Emas 2045 sedang dibangun dengan fondasi yang semakin kuat—satu pabrik baru demi satu pabrik baru, satu lapangan kerja demi satu lapangan kerja.
Pewarta : Yudha Purnama

