RI News. Jakarta – Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Asops Kasal), Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan, menegaskan bahwa penerapan konsep multi-domain operations (operasi lintas domain) bukan lagi sekadar opsi strategis, melainkan keharusan eksistensial bagi pertahanan negara di tengah dinamika peperangan kontemporer.
“Pergeseran dari operasi tradisional menuju multi-domain operations merupakan kebutuhan mendesak, bukan pilihan,” ujar Yayan Sofiyan dalam diskusi daring bertajuk Indonesia’s Blue Water Transition: Why High-Value ASW/AAW Assets Will Decide Its Credibility, yang diselenggarakan pada Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, konsep ini memungkinkan penetrasi dan penggagalan sistem pertahanan lawan secara terintegrasi, mencakup serangan fisik terhadap infrastruktur kritis hingga gangguan di ranah non-kinetik. Pendekatan tersebut dirancang untuk menciptakan efek deteren yang kuat dengan memanfaatkan sinergi antar-domain.

Yayan menjelaskan bahwa keberhasilan multi-domain operations bergantung pada kolaborasi erat antara Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, serta elemen siber dan antariksa. Ekosistem pertahanan terpadu ini harus dibangun secara holistik untuk memproyeksikan kekuatan secara simultan di berbagai dimensi.
Ia menguraikan skenario operasional potensial: di domain darat, serangan dapat difokuskan pada choke points atau jalur sempit strategis milik pihak lawan; di domain udara, penargetan fasilitas pertahanan vital; sementara di domain laut, pengerahan kapal perang menjadi instrumen utama. Lebih lanjut, sabotase terhadap infrastruktur bawah laut—seperti jaringan kabel serat optik—dapat melumpuhkan konektivitas komunikasi dan pasokan energi lawan.
“Kita bisa memutus akses internet melalui operasi pasukan khusus, sehingga konektivitas drop total. Begitu pula akses energi yang masuk ke suatu negara bisa kita ganggu melalui sabotase terukur,” papar Yayan, seraya menekankan pendekatan tersebut sebagai bagian dari strategi penyangkalan ancaman.
Meski demikian, pejabat tinggi TNI AL itu menegaskan bahwa seluruh langkah operasional semacam itu hanya dapat dilaksanakan setelah adanya keputusan politik resmi dari pemerintah dan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyatakan keadaan perang.
Dengan kecepatan dan ketepatan dalam penerapan multi-domain approach, Yayan meyakini pola pikir dan kalkulasi strategis pihak lawan dapat diubah secara signifikan. Hal ini berpotensi mencegah eskalasi konflik lebih lanjut, sehingga pertempuran berkepanjangan dapat dihindari melalui efek deteren yang kredibel.
Pernyataan Asops Kasal ini mencerminkan adaptasi doktrin pertahanan Indonesia terhadap evolusi ancaman global, di mana peperangan tidak lagi terbatas pada satu matra, melainkan melibatkan integrasi penuh lintas domain untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional di era disrupsi keamanan.
Pewarta : Yudha Purnama

