RI News Portal. Dubai, United Arab Emirates — Gejolak internal yang belum reda, dua kelompok bersenjata yang selama ini menjadi ujung tombak pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah kembali mengeluarkan sinyal kesiapan tempur. Houthi di Yaman dan Kataib Hezbollah di Irak secara terpisah menyatakan potensi aksi baru, tepat ketika kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln beserta armada pendukungnya mendekati perairan regional. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat posisi Teheran yang tengah menghadapi tekanan ganda: represi domestik brutal terhadap demonstrasi massal serta ancaman militer eksternal dari Washington.
Pemberontak Houthi, yang mengendalikan sebagian besar wilayah barat laut Yaman, pada Senin lalu merilis pesan singkat berisi gambar kapal terbakar disertai kata “Segera”. Pesan itu diikuti tayangan ulang rekaman serangan mereka terhadap kapal tanker di Teluk Aden awal 2024. Meski telah menghentikan operasi setelah gencatan senjata sebelumnya, kelompok ini berulang kali menegaskan bahwa serangan terhadap pelayaran komersial di Laut Merah dapat dilanjutkan kapan saja jika dianggap perlu—terutama sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran di tengah krisis saat ini.
Sementara itu, dari Irak, juru bicara Kataib Hezbollah, Ahmad “Abu Hussein” al-Hamidawi, mengeluarkan pernyataan tegas: perang terhadap Republik Islam Iran tidak akan berlangsung mudah bagi musuh. Ia memperingatkan bahwa agresi apa pun akan berujung pada “bentuk kematian paling pahit” bagi pihak penyerang, dan tidak akan menyisakan jejak bagi mereka di kawasan. Ancaman ini muncul hanya sehari sebelum armada AS terlihat bergerak ke arah Teluk.

Kedua kelompok tersebut memang tidak turut serta secara aktif dalam konflik singkat namun dahsyat antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu, yang berakhir dengan serangan udara Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran. Ketiadaan partisipasi mereka waktu itu mencerminkan kerapuhan jaringan yang oleh Teheran disebut sebagai “Poros Perlawanan”. Aliansi tersebut sempat runtuh pasca-operasi militer Israel terhadap Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, serta jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada 2024—semua sekutu utama Iran.
Situasi kini semakin rumit karena protes di dalam negeri Iran terus membesar. Demonstrasi yang meletus sejak akhir Desember 2025 dipicu anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar AS, yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok secara drastis. Penindasan keras oleh aparat keamanan telah menyebabkan ribuan korban jiwa. Aktivis hak asasi manusia berbasis di luar negeri melaporkan angka korban tewas mendekati atau bahkan melebihi 5.000 orang, dengan puluhan ribu lainnya ditangkap. Pemerintah Iran sendiri mengakui korban mencapai lebih dari 3.000 jiwa, meski membedakan antara warga sipil, petugas keamanan, dan apa yang mereka sebut sebagai “teroris”.
Baca juga : Nomor Ponsel Berubah Jadi Identitas Digital: Era Anonimitas Berakhir di Indonesia
Presiden AS Donald Trump telah menetapkan dua “garis merah” yang jika dilanggar akan memicu respons militer: pembunuhan terhadap demonstran damai serta eksekusi massal terhadap tahanan protes. Pernyataannya disertai pengiriman armada besar ke kawasan, yang menurutnya dilakukan “untuk berjaga-jaga”. Di sisi lain, Iran merespons dengan spanduk provokatif di Lapangan Enghelab, Teheran, yang menampilkan gambar kapal induk berlumur darah dan peringatan: “Jika kamu menabur angin, kamu akan menuai badai.”
Uni Emirat Arab secara tegas menyatakan tidak akan mengizinkan wilayahnya—baik udara, darat, maupun laut—digunakan untuk operasi militer terhadap Iran, seraya menekankan penyelesaian melalui dialog. Dari Lebanon, Hizbullah—yang masih pulih dari kerugian besar pada 2024—menyatakan sedang bersiap menghadapi kemungkinan agresi, namun belum memberikan komitmen jelas untuk ikut campur jika Iran diserang langsung.

Juru bicara pertahanan Iran menegaskan bahwa segala bentuk serangan akan dibalas dengan cara yang “lebih menyakitkan dan tegas” dibandingkan sebelumnya, sementara Kementerian Luar Negeri memperingatkan bahwa ketidakamanan di kawasan bersifat menular dan akan memengaruhi semua pihak. Di tengah ketegangan ini, banyak maskapai internasional menghindari wilayah udara Iran, mengingat insiden penembakan pesawat sipil Ukraina pada 2020 yang menewaskan 176 orang.
Krisis Iran saat ini bukan sekadar soal ekonomi atau protes jalanan. Ia menjadi titik persimpangan antara represi internal yang mematikan, kerapuhan aliansi regional, dan risiko eskalasi militer global. Bagi kawasan Timur Tengah, langkah selanjutnya dari Teheran, Washington, atau kelompok-kelompok proksi bisa menentukan apakah ketegangan ini mereda atau justru meledak menjadi konflik yang lebih luas.
Pewarta : Setiawan Wibisono

