RI News. Israel — Konflik bersenjata antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memasuki pekan keempat sejak dimulainya operasi militer besar-besaran pada akhir Februari 2026. Eskalasi terbaru menandai pergeseran signifikan: dari serangan udara terfokus menjadi ancaman langsung terhadap infrastruktur energi dan sipil yang menjadi tulang punggung kelangsungan hidup jutaan warga di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.
Pada Sabtu malam waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan batas waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz—koridor maritim yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Trump menyatakan bahwa kegagalan memenuhi tuntutan tersebut akan memicu penghancuran pembangkit listrik Iran, dimulai dari fasilitas terbesar. Pernyataan ini disampaikan melalui platform daring pribadinya dan langsung memicu respons keras dari Tehran.
Ketua Majelis Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa setiap serangan terhadap pembangkit listrik atau infrastruktur vital Iran akan dibalas dengan penargetan serupa terhadap fasilitas energi dan desalinasi di negara-negara Teluk, termasuk instalasi yang menyediakan air minum bagi jutaan penduduk. Ia menambahkan bahwa lembaga-lembaga yang mendanai anggaran militer Amerika Serikat juga dapat dianggap sebagai target sah. Duta Besar Iran di PBB menyebut serangan semacam itu sebagai “tindakan tidak pandang bulu dan tidak proporsional” yang melanggar prinsip hukum humaniter internasional.

Sementara itu, serangan rudal balistik Iran menyasar wilayah selatan Israel pada Sabtu malam hingga Minggu pagi. Dua komunitas dekat situs penelitian nuklir rahasia—Arad dan Dimona—mengalami kerusakan berat. Layanan darurat Israel melaporkan lebih dari 175 orang luka-luka, dengan mayoritas dirawat di rumah sakit utama kawasan selatan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut kelangsungan hidup tanpa korban jiwa dalam serangan tersebut sebagai “keajaiban”, meskipun Israel mendeteksi peluncuran rudal tambahan pada Minggu malam. Militer Israel mengklaim frekuensi serangan rudal Iran telah menurun sejak awal konflik, namun intensitas serangan terbaru menunjukkan kemampuan Tehran untuk menembus sistem pertahanan udara multilayer Israel di beberapa titik.
Di front Lebanon, Hizbullah—sekutu utama Iran—melanjutkan serangan roket dan drone ke wilayah utara Israel, termasuk satu insiden yang menewaskan seorang warga sipil di Misgav Am. Israel merespons dengan memperluas target ke jembatan-jembatan di atas Sungai Litani dan mempercepat penghancuran bangunan dekat perbatasan Lebanon selatan, yang menurut Menteri Pertahanan Israel Katz digunakan untuk memindahkan personel dan senjata. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.000 korban jiwa dan lebih dari satu juta pengungsi akibat operasi Israel di wilayah selatan.
Baca juga : Lebaran 1447 H: Surplus Pangan Nasional Ciptakan Kemenangan Bersama bagi Petani, Pedagang, dan Masyarakat
Korban jiwa secara keseluruhan terus bertambah: lebih dari 1.500 di Iran, sekitar 15 di Israel dari serangan langsung Iran, serta ratusan di Lebanon dan wilayah Teluk. Perang ini juga telah mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz secara drastis, mendorong lonjakan harga minyak global dan mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Dari perspektif strategis, ancaman timbal balik terhadap infrastruktur energi menandakan risiko perang total kawasan yang dapat melibatkan negara-negara Teluk secara tidak langsung. Para pengamat hukum internasional menekankan bahwa penargetan pembangkit listrik yang melayani kebutuhan sipil hanya dibenarkan jika keuntungan militer jelas melebihi dampak kemanusiaan—kriteria yang sulit dipenuhi dalam situasi saat ini. Sementara kedua pihak mengklaim sedang mendekati tujuan masing-masing—melemahkan program nuklir dan rudal Iran serta mendukung perubahan rezim di satu sisi, bertahan dan membalas dendam di sisi lain—realitas di lapangan menunjukkan konflik yang semakin sulit dikendalikan.
Dengan penempatan pasukan tambahan Amerika Serikat di kawasan dan pernyataan ambigu dari Washington tentang kemungkinan “pengakhiran operasi”, perang ini berada pada persimpangan kritis: apakah akan mereda menjadi fase de-eskalasi terbatas, atau justru meluas menjadi konfrontasi berkepanjangan yang menghancurkan infrastruktur vital seluruh Timur Tengah.
Pewarta : Setiawan Wibisono

