RI News. London, 1 November 2026 – Dunia seni peran berduka atas berpulangnya aktor Inggris Sir Patrick Stewart pada usia 86 tahun. Kabar yang beredar sejak 29 Oktober 2026 itu memicu gelombang penghormatan dari para sejawat, sineas, dan penggemar di berbagai belahan dunia. Stewart meninggal setelah menjalani apa yang disebut keluarganya sebagai “perjalanan singkat dan penuh kepedihan” melawan penyakit Alzheimer dan demensia badan Lewy.
Sepanjang kariernya, Stewart dikenal sebagai pemenang dua kali Olivier Award dan berulang kali masuk nominasi Tony, Golden Globe, serta SAG Awards. Namun, capaian itu hanya sebagian dari cerita. Ia mewakili jenis aktor yang jarang ditemui: seniman yang berakar kuat pada tradisi teater klasik, tetapi mampu menembus budaya populer global tanpa kehilangan wibawa.
Dari sudut pandang kajian seni pertunjukan, perjalanan Stewart menarik karena menunjukkan bahwa keunggulan teater dapat berpindah ke layar tanpa kehilangan kedalaman. Peran-peran Shakespeare, seperti Enobarbus dalam Antony and Cleopatra dan Claudius di samping Hamlet yang diperankan David Tennant, membentuk disiplin vokal dan kehadiran panggung yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Disiplin itu terbawa ke peran yang paling melekat pada namanya, Kapten Jean-Luc Picard dalam Star Trek: The Next Generation, serta Profesor Charles Xavier dalam seri X-Men. Kedua tokoh tersebut digambarkan sebagai pemimpin yang mengandalkan nalar, empati, dan dialog, bukan kekuatan semata. Pilihan karakter semacam itu turut membentuk imajinasi publik tentang kepemimpinan yang humanis.
Rentang perannya pun lebar. Stewart tampil dalam Excalibur, Dune, dan Robin Hood: Men in Tights, hingga Green Room, tempat ia memerankan pemimpin neo-Nazi yang bertutur lembut, sebuah penampilan yang menunjukkan kemampuannya memainkan ancaman lewat ketenangan.
Pihak waralaba Star Trek menyebut Stewart sebagai “sebuah suara, sebuah kehadiran, seorang kapten yang tiada duanya” yang menginspirasi generasi penggemar untuk memandang ke arah bintang-bintang.
William Shatner, yang juga pernah menjadi kapten USS Enterprise, mengenangnya sebagai sahabat dan aktor yang membawa kecerdasan, keanggunan, serta kemanusiaan dalam setiap peran. George Takei menyebutnya legenda yang tak tergantikan dan menyampaikan, “Beristirahatlah di surga, Kapten.”
Alex Kurtzman, salah satu pencipta Star Trek: Picard, mengungkapkan bahwa Stewart bersedia kembali memerankan Picard hanya jika ada wilayah baru yang dijelajahi. Menurutnya, Stewart menuntut kejujuran dan ingin memberi penggemar nostalgia yang layak sambil tetap mematahkan ekspektasi mereka.
Dari keluarga The Next Generation, Wil Wheaton menulis, “Selamat jalan, Kapten,” sedangkan Jonathan Frakes menyebut Stewart sebagai orang yang paling sering ia ajak bermain akting dan ia sutradarai. Marvel Studios menilai Stewart menghidupkan Charles Xavier dengan keanggunan, kecerdasan, dan kemanusiaan yang menjadi tolok ukur bagi generasi penggemar.
Hugh Jackman, rekan mainnya dalam film X-Men, mengaku belajar banyak darinya. Rebecca Romijn mengenang Stewart sebagai sosok jenaka dengan suara menggelegar yang selalu sampai ke barisan paling belakang.

Penghormatan paling menyentuh datang dari Sir Ian McKellen. Persahabatan keduanya terjalin lama, baik di layar lebar maupun di panggung lewat pementasan Waiting for Godot dan No Man’s Land. McKellen menyebut Stewart sebagai aktor paling dihormati dan dicintai di generasinya di kedua sisi Atlantik, serta “sosok yang bisa diandalkan, dikagumi, dan dalam kasus saya, dicintai”. McKellen bahkan memimpin upacara pernikahan Stewart pada 2013.
Kepergian Stewart meninggalkan istrinya, Sunny, beserta anak-anak dan kerabat. Lebih dari itu, ia meninggalkan contoh bahwa kewibawaan seorang aktor lahir dari ketekunan terhadap kerja, kejujuran terhadap peran, dan kemurahan hati terhadap sesama pelaku seni.
Pewarta : Vie
Tagline: #PatrickStewart, #StarTrek, #XMen, #CaptainPicard, #ProfesorXavier, #AktorLegendaris, #TeaterShakespeare, #BerdukaCitaHollywood,
