RI News. Klaten, Jum’at 30 Oktober 2026 – Hujan yang mengguyur lereng Gunung Merapi selama lima hari berturut-turut belum serta-merta mengakhiri persoalan air bersih warga. Setelah berbulan-bulan dilanda kemarau, air langit itu belum dimanfaatkan untuk konsumsi dan baru sebatas ditampung guna memenuhi kebutuhan ternak.
Kondisi tersebut dialami warga Dukuh Pajegan, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Salah satu warga, Martono, menuturkan hujan berintensitas sedang turun sejak Jumat (23/10/2026) hingga Selasa (27/10/2026). Menurutnya, selama lima hari itu langit tertutup rapat dan kampung diselimuti kabut sehingga matahari nyaris tak tampak. “Belum sampai yang deras,” ujarnya saat ditemui di Pajegan, Jumat (30/10/2026).
Hujan tersebut merupakan yang pertama turun setelah musim kemarau panjang. Meski demikian, Martono mengaku masih mengandalkan stok air bersih di rumah atau mengambil dari bak penampungan umum. Air hujan yang dialirkan lewat talang ke bak penampungan rumah pun belum dipakai untuk konsumsi karena dikhawatirkan bercampur debu yang menumpuk di atap selama kemarau.

Secara empiris, kualitas air pada hujan awal memang kerap dipengaruhi kotoran pada permukaan penangkap air. Hal itu dirasakan langsung oleh warga. Martono mengungkapkan air hujan yang dimasak untuk membuat teh masih berbau tanah. Menurut pengalamannya, air baru layak dikonsumsi setelah hujan turun sekitar 10 hingga 15 kali.
Karena itu, warga masih bergantung pada air bantuan yang rutin disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ke bak penampungan umum. Saat kebutuhan meningkat, warga terpaksa membeli. Martono menyebut pembelian mendadak dikenai tarif Rp400.000 per tangki berkapasitas 8.000 liter, sedangkan sistem pesan lebih awal atau inden dipatok Rp300.000 dengan masa tunggu hingga sepekan.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, menyatakan distribusi air bersih masih berjalan rutin dan diprioritaskan ke wilayah yang mulai kekurangan air.
Berdasarkan data BPBD Klaten hingga Kamis (29/10/2026), krisis air bersih melanda 21 desa di tujuh kecamatan. Bantuan yang telah disalurkan mencapai 1.464 tangki atau setara 7,3 juta liter, dengan penerima manfaat 5.799 keluarga atau 19.659 jiwa. Selain bersumber dari APBD Klaten, bantuan juga datang dari instansi, perorangan, perusahaan, hingga komunitas.
Baca juga: Kapolda DIY Serukan Warga Jaga Persatuan, Tak Mudah Terpancing Provokasi Pasca Kericuhan Aspirasi
Di Kecamatan Kemalang, desa terdampak meliputi Kendalsari, Sidorejo, Tlogowatu, Tegalmulyo, dan Keputran. Di Kecamatan Cawas terdapat Desa Bawak, Burikan, dan Pogung, sedangkan di Kecamatan Jatinom meliputi Desa Bandungan dan Temuireng. Kecamatan Wedi mencakup Desa Kaligayam. Adapun di Kecamatan Bayat, krisis terjadi di Desa Wiro, Jotangan, Krikilan, Dukuh, Krakitan, Banyuripan, Gununggajah, dan Tegalrejo. Sementara itu, Desa Tumpukan di Kecamatan Karangdowo dan Desa Kalikebo di Kecamatan Trucuk turut terdampak.
Pewarta: Sumanto
Tagline: #KrisisAirBersih, #LerengMerapi, #Klaten, #HujanPertama, #Kemalang, #BPBDKlaten, #Kemarau, #AirBantuan,

