RI News. Solo, Jum’at 30 Oktober 2026 – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), meminta masyarakat tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan dari hasil survei elektabilitas yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Survei itu mencatat elektabilitas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebesar 8,4 persen, tertinggal 1,4 poin persentase dari Presiden Prabowo Subianto yang meraih 9,8 persen.
Jokowi menilai angka-angka dalam survei hanya menggambarkan pendapat publik pada satu titik waktu tertentu, sehingga sifatnya dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. “Ya survei-survei itu kan potret pendapat masyarakat pada saat tertentu. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan. Karena setiap saat itu bisa berbeda, berbeda, berbeda,” ujarnya, Kamis (30/10/2026).
Ketika ditanya mengenai faktor yang melatarbelakangi capaian elektabilitas putra sulungnya itu, Jokowi mengaku belum mencermati hasil survei secara rinci. Ia justru mengarahkan agar data dibaca langsung dari laporan lengkapnya. “Ya coba dilihat, di surveinya itu secara mendetail. Saya belum melihat,” katanya.

Jokowi juga ditanya apakah hasil survei berkaitan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal ijazah serta desakan pemakzulan. Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu menyatakan tidak mengetahui hubungan tersebut. Menurutnya, banyak faktor dapat menaikkan maupun menurunkan elektabilitas seseorang. “Ya saya kira banyak hal lah yang bisa menaikkan atau menurunkan elektabilitas dari siapa pun,” tuturnya.
Dalam simulasi semi terbuka yang memuat 24 nama, SMRC mencatat nama Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dengan 35,5 persen, disusul Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen. Sebaran angka tersebut menunjukkan peta dukungan publik yang masih sangat cair pada tahap awal ini.
Secara metodologis, survei dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026 dengan 1.213 responden. SMRC memakai metode double sampling bagi responden yang memiliki telepon seluler dan stratified multistage random sampling bagi responden tanpa telepon seluler. Margin of error diperkirakan sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan rentang kesalahan itu, selisih tipis antara Gibran dan Prabowo perlu dibaca hati-hati karena berada dalam wilayah ketidakpastian statistik. Hasil survei pun semestinya ditafsirkan sesuai konteks pertanyaan dan metode yang digunakan.
Baca juga: KPK Jemput Bola ke Polres Bogor, Wabup Jaro Ade dan Empat Saksi Dipanggil Ulang Usai Mangkir
Di sisi lain, pendiri SMRC sekaligus pengamat politik, Saiful Mujani, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi politik nasional. Ia menilai kekecewaan publik terhadap pemerintah telah meluas. “Tanya sama orang dari Aceh sampai Papua. Kalau ditanya sekarang, hampir bisa dikatakan sudah minus legitimasi itu, dan umumnya rakyat sudah marah, dari Aceh sampai Papua,” ujarnya.
Pewarta: Surya Kencana
Tagline: #Jokowi, #Gibran, #SurveiSMRC, #Elektabilitas, #Prabowo, #DediMulyadi, #PolitikNasional, #SaifulMujani,

