RI News. Wonogiri, 29 Agustus 2026 — Sebuah pergeseran paradigma pengelolaan lahan pertanian tengah berlangsung di Desa Mayong, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri. Keterbatasan struktur tanah lokal yang selama ini diidentikkan dengan karakter kurang produktif kini berhasil ditransformasikan menjadi kawasan edukasi holistik berbasis agrobisnis. Inisiatif pioneering ini ditandai dengan kesiapan panen perdana komoditas unggulan berupa 1.000 batang pepaya kalifornia dan 2.000 batang semangka pada bulan Agustus tahun ini. Keberhasilan vegetatif tersebut tidak hanya menarik atensi para penggiat agrobisnis dari Kecamatan Jatiroto dan Sidoharjo, tetapi juga memicu diskursus baru mengenai revitalisasi lahan marjinal yang mampu mengintegrasikan aspek edukasi pertanian dengan penguatan ekonomi lokal.
Fenomena menarik ini lahir dari sinergi strategis antara praktisi lapangan lokal dengan jaringan diaspora perantau. Sumardi, seorang perangkat desa yang akrab disapa Gebres, bertindak sebagai penggerak utama proyek percontohan tersebut. Langkah inovatif ini mendapat dorongan signifikan melalui kolaborasi bersama komunitas pengusaha asal Wonogiri yang tergabung dalam SULTAN BUKIT BRENGGOLO, serta didukung penuh oleh pengusaha asal Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Suparno Parnaraya. Kolaborasi ini mempertemukan pengetahuan tata kelola lahan mikro dengan akses jejaring ekonomi perantau, menciptakan model kemitraan baru dalam mengatasi fenomena depopulasi tenaga kerja muda di pedesaan akibat migrasi ke kota-kota besar.
Dalam sebuah kesempatan saat ditemui di gubuk peristirahatan area persawahan, Sumardi Gebres menguraikan analisis teknis terkait optimalisasi tanah di wilayah pedalaman Wonogiri. Menurut argumentasinya, persepsi umum yang menganggap wilayah pedesaan Wonogiri tidak ramah terhadap budidaya hortikultura merupakan kekeliruan pemahaman atas karakteristik tanah. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan agribisnis terletak pada ketepatan analisis kontur serta kandungan hara tanah yang disesuaikan dengan varietas tanaman yang diadaptasikan. Dengan tata kelola presisi, berbagai jenis komoditas buah-buahan terbukti mampu menghasilkan produktivitas yang signifikan secara ekonomis.

“Lahan di wilayah Wonogiri sebetulnya subur dan cocok untuk pertanian apa saja, akan tetapi kendala utama pada sistem pengairan yang masih mengandalkan kalender musim atau petani tadah hujan, sehingga warga kebanyakan memilih usaha di perantauan yang ikhlas meninggalkan tanah warisan leluhurnya. Kasat mata saya dan teman-teman yang tergabung di komunitas Sultan Bukit Brenggolo mulai beranjak membuka kembali peluang agrobisnis di bidang pertanian dan perdagangan hasil bumi wilayah Jatiroto,” jelas Sumardi Gebres.
Dampak sosial dari inisiatif ini meluas cepat seiring masifnya dokumentasi visual yang beredar di ruang publik digital. Kehadiran kebun pepaya kalifornia dan semangka yang subur di Desa Mayong mampu mendekonstruksi anggapan umum masyarakat luas bahwa Wonogiri semata-mata kawasan tandus tanpa prospek agribisnis. Kunjungan langsung dari para pemangku kepentingan dan warga perantau menjadi sarana verifikasi lapangan, membuktikan bahwa kawasan pedesaan masih menyimpan aset ekonomis bernilai tinggi apabila disentuh dengan manajemen teknologis yang tepat.
Kunjungan lapangan dan pemantauan berkala yang dilakukan jejaring penggiat pertanian ini diarahkan untuk mendorong percepatan modernisasi sektor agraria pedesaan. Di tengah dinamika ketahanan pangan, integrasi alih teknologi pemeliharaan tanaman menjadi instrumen krusial guna menghasilkan komoditas hortikultura yang berdaya saing tinggi serta mampu menembus rantai pasok pasar modern.
Komunitas Sultan Bukit Brenggolo secara konsisten memanfaatkan momentum ini untuk membangun jejaring edukasi mengenai budidaya hortikultura modern di wilayah Kecamatan Jatiroto dan Sidoharjo. Pendekatan yang ditawarkan mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari penyiapan media tanam, efisiensi pemeliharaan vegetatif, hingga penerapan teknologi pertanian presisi. Selain pepaya kalifornia dan semangka, dikembangkan pula varietas alpukat unggulan. Ketiga komoditas ini dipilih berkat atribut fisiknya yang memiliki mutu konsisten, tingkat kemanisan optimal, serta tampilan visual yang diminati oleh segmen pasar ritel maupun grosir.
Melalui representasi yang disampaikan oleh Sumardi Gebres, Suparno Parnaraya menyampaikan apresiasi mendalam terhadap daya cipta para pengelola lahan di Jatiroto dan Brenggolo. Model pengelolaan ini dipandang sukses membuktikan bahwa restrukturisasi cara tanam konvensional menuju sistem yang efisien mampu menciptakan efisiensi biaya operasional sekaligus melipatgandakan nilai jual hasil bumi kawasan lokal.
“Ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi bisa meningkatkan kualitas hasil bumi di wilayah Kabupaten Wonogiri. Saya mengajak masyarakat untuk melihat langsung keberhasilan ini,” ungkap Suparno Parnaraya sebagaimana disuarakan kembali oleh Gebres.
Sebagai penutup, Gebres menekankan pentingnya mereplikasi keberhasilan ini bagi keberlanjutan regenerasi petani. Inovasi agribisnis di Jatiroto ini diharapkan mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap sektor agraria. Dengan dukungan teknologi dan kepastian pasar, sektor pertanian tidak lagi dipandang sebagai lapangan kerja subsisten, melainkan sebuah peluang usaha produktif yang memberikan nilai tambah ekonomi berkelanjutan bagi pemuda dan masyarakat Wonogiri secara keseluruhan.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #EdukasiPertanianJatiroto, #PepayaKaliforniaWonogiri, #SemangkaPanenAgustus, #DesaMayongAgrobisnis, #SultanBukitBrenggolo, #SuparnoParnaraya, #SumardiGebres, #PertanianModernWonogiri, #WisataEdukasiBuah, #HortikulturaPresisi, #InovasiTaniMuda,

