RI News. Wonogiri, 29 Agustus 2026 — Bagi warga Kabupaten Wonogiri yang berbatasan langsung dengan perairan selatan Jawa, ancaman guncangan tektonik dari zona megathrust Laut Selatan adalah kenyataan geologis yang harus dihadapi dengan bijak dan terencana. Bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami tidak bisa ditebak kapan datangnya. Namun, dampak kerusakan fisik maupun potensi jatuhnya korban jiwa sejatinya bisa ditekan sedini mungkin jika masyarakat dan para pembuat bangunan memiliki kesiapsiagaan penuh. Menanggapi potensi risiko tersebut, kesadaran bersama mutlak diperlukan. Langkah mitigasi tidak cukup hanya bertumpu pada imbauan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan langsung dari berbagai kalangan di lapangan yang sehari-hari merancang dan mendirikan bangunan tempat masyarakat beraktivitas.
Di sinilah pentingnya menghubungkan pengetahuan teori dari kampus langsung ke tangan para pembuat bangunan di lapangan, mulai dari konsultan perencana, kontraktor, hingga para tukang. Guna mewujudkan kesiapsiagaan tersebut, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menyelenggarakan Sosialisasi Mitigasi Bahaya Gempa dan Tsunami bagi Pelaku Jasa Konstruksi Sesuai SNI Gempa di Kabupaten Wonogiri. Diikuti sedikitnya 70 orang dari berbagai kalangan di pekerjaan konstruksi dan kesiapsiagaan bencana, agenda kolaborasi dua grup riset FT UNS, yakni SMARTCrete Research Group dan SMARTQuake Research Group bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri tersebut berlangsung di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) Wonogiri.
Salah satu tim pakar dari UNS Solo, Achmad Basuki, menyoroti bahwa hasil kajian teknis mengenai risiko bencana tidak akan membawa perubahan nyata jika hanya berhenti sebagai laporan riset. Hasil riset mengenai bahaya gempa maupun cara merancang bangunan tahan gempa tidak boleh hanya mengendap sebagai dokumen tertulis di perpustakaan kampus.
“Kolaborasi erat antara grup riset UNS dengan dinas terkait di Pemkab Wonogiri serta para kontraktor dan tukang di lapangan adalah kunci utama mitigasi. Dengan menyamakan pemahaman standar teknis, kita bisa memastikan setiap bangunan fisik yang berdiri di Wonogiri benar-benar aman dan melindungi masyarakat,” tegas Basuki.

Transformasi SNI 1726:2019 dan Penguatan Bangunan Publik
Para pelaku jasa konstruksi di lapangan pada hakikatnya merupakan benteng pertahanan paling depan. Ketika perencana dan tukang paham cara mengikat besi beton dengan benar atau mencampur adukan semen secara presisi, risiko bangunan ambruk saat diguncang gempa dapat ditekan sedemikian rupa. Oleh karena itu, dalam agenda edukasi tersebut dipaparkan materi yang mendalam, diawali dengan komprehensitasi peta ancaman bencana di Wonogiri yang dijabarkan secara gamblang oleh Senot Sangadji.
Sementara itu, Edy Purwanto bersama Purwanto membedah secara rinci aturan teknis Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726:2019 terkait tata cara perancangan ketahanan gempa untuk struktur bangunan. Achmad Basuki melengkapi pemaparan dengan strategi kolaborasi terpadu dalam skenario mitigasi gempa jangka panjang.
Secara pemetaan seismik nasional, kawasan Wonogiri masuk dalam Kategori Desain Seismik D (KDS D). Klasifikasi ini menandakan bahwa wilayah Wonogiri memiliki tingkat risiko guncangan tanah tergolong tinggi akibat keberadaan zona subduksi—pertemuan lempeng tektonik aktif di lepas pantai selatan Jawa. Guncangan kuat dari zona megathrust ini tidak hanya berpotensi merobohkan struktur gedung, tetapi juga berisiko memicu gelombang tsunami di sepanjang garis pantai selatan. Memahami peta kerawanan ini sangat penting bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengubah cara pandang dalam merancang dan mendirikan tempat tinggal yang aman.
Langkah mitigasi gempa tidak berhenti pada pembangunan rumah baru. Basuki juga mengingatkan pentingnya melakukan audit keselamatan (structural audit) pada gedung-gedung fasilitas publik yang sudah berdiri lama, seperti sekolah, puskesmas, pasar, dan kantor pelayanan masyarakat. Gedung publik menampung banyak orang setiap harinya. Melalui audit struktur secara berkala, pemerintah daerah bersama tim ahli dapat memetakan gedung mana saja yang memiliki kelemahan struktur. Bangunan yang kurang kuat bisa segera diperbaiki atau diperkuat kembali strukturnya (retrofitting) sebelum gempa benar-benar terjadi.
Melalui rangkaian agenda terintegrasi ini, masyarakat dan praktisi konstruksi diharapkan menjadi lebih siap, memiliki pengetahuan memadai mengenai bangunan tahan gempa, serta memahami peta bencana yang berpotensi terjadi di Wonogiri. Dengan demikian, upaya menekan dampak gempa, baik dari sisi kerugian material maupun keselamatan jiwa, dapat diwujudkan secara kolaboratif oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pewarta: Hari Sutopo
Tagline: #MitigasiMegathrustWonogiri, #FTUNSSolo, #SNIGempa1726, #KonstruksiTahanGempa, #WonogiriTanggapBencana, #SMARTCreteUNS, #SMARTQuakeUNS, #InfrastrukturAman, #AuditStrukturPublik, #SainsUntukMasyarakat,

