RI News. Sragen, Jumat, 14 Agustus 2026 — Kemeriahan merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI semakin terasa di Desa Bedoro, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Jalan protokol utama desa dipadati ratusan warga yang berbondong-bondong menyaksikan rangkaian acara budaya akbar, sekaligus memulai perjalanan ekonomi mikro melalui penggelaran festival gunungan dan pemberdayaan UMKM setempat.
Sebuah panggung sederhana berukuran satu meter berdiri tegak di halaman rumah Kepala Desa Bedoro, Pri Hartono. Di sinilah seluruh rangkaian peringatan HUT dimulai. Acara dibuka dengan kirab gunung yang mengangkut hasil bumi para petani desa. Kirab ini mengikuti tradisi sakral Jumat Pon, mengambil weton desa yang bertepatan dengan hari ini. Gunungan raksasa yang dibawa warga beramai-ramai berisi jagung, ketela, sayur-mayur, dan hasil panen lainnya, melambangkan rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi.
Prosesi dimulai dari depan rumah Kades menuju ke Sendang Sokawati, sebuah punden desa bersejarah yang dikenal penduduk sebagai tempat suci penghargaan alam. Nama “Sokawati” sendiri identik dengan julukan lama Kabupaten Sragen, Bumi Sukowati. Perjalanan kirab yang berjarak sekitar satu kilometer ini diikuti seluruh warga Dukuh Dimoro dan Tegalrejo. Setiap Rukun Tetangga (RT) membawa gunungan sendiri dan menampilkan kostum tradisional sesuai kreativitas masing-masing.

Kepala Desa Pri Hartono mengungkapkan bahwa seluruh kegiatan ini digagas oleh Karangtaruna Subur Luhur Dukuh Dimoro dan Tegalrejo dengan konsep “Sedekah Bumi”. “Kami ingin mengajak semua warga merayakan HUT ini bukan hanya sebagai hari merdeka, tetapi juga sebagai momentum untuk menghargai hasil panen yang berlimpah,” ujarnya. Sedekah Bumi ini digelar setiap tahun sekali tepat pada saat habis tanam, menjadi bentuk tanggapan atas berkah alam sekaligus ajakan menjaga keseimbangan lingkungan.
Animonya luar biasa. Pasca kirab gunung, puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa langsung muncul di halaman panggung. Sekitar 50-an pelaku usaha itu menjajakan dagangan mulai dari makanan, minuman, hingga produk kreatif. “Kami sengaja mengundang mereka agar mereka bisa menjual sambil menyaksikan acara, sehingga tidak ada biaya sewa panggung,” ungkap Pri Hartono. Pemberdayaan UMKM ini menjadi bagian penting dari kegiatan, sekaligus menciptakan cuan tambahan bagi warga yang terdampak musim tanam.
Malam harinya, suasana semakin meriah. Panggung berubah menjadi arena pertunjukan seni budaya. Reog Ponorogo, tari tradisional khas Jawa Timur yang sudah diangkat ulang oleh pemain-pemain asli warga Desa Bedoro, ditampilkan secara merdu. Para penari mengenakan kostum khas dengan topeng dan iring-iringan gamelan, membangkitkan semangat gotong royong dan kekayaan budaya daerah. Pada malam yang sama, orkes melayu dari Solo tampil memukau, mengiringi tarian dan nyanyian yang menyentuh hati ribuan warga yang memadati jalanan.
Sebagai penutup, pesta kembang api raksasa diberi warna-warni langit malam Sragen. Api yang meledak-ledak di atas sawah-sawah desa itu menjadi simbol harapan baru bagi generasi muda desa untuk tetap menjaga budaya sekaligus mengembangkan usaha.
Kepala Desa Pri Hartono berharap kegiatan ini tidak hanya jadi acara tahunan, melainkan bisa masuk ke dalam kalender event desa dan bahkan kalender event kabupaten. “Dengan begitu, seni dan budaya lokal kita semakin dikenal, sekaligus menjadi sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Pewarta: Dandy Setiawan
Tagline: #HUTKemerdekaanRI, #SedekahBumi, #BudayaLokalSragen, #PemberdayaanUMKM,

