RI News. Tompaso, 30 Juli 2026- Desa Torout di Kecamatan Tompaso Baru, Kabupaten Minahasa Selatan, menulis babak baru sejarahnya pada Kamis, 23 Juli 2026. Untuk pertama kalinya sejak berdiri seabad silam, desa yang dihuni kolaborasi Suku Minahasa dan Suku Mongondow menggelar perayaan Hari Ulang Tahun ke-125 secara resmi. Tema yang diusung, “Mewujudkan Desa Torout Menuju Menjadi Barometer Peradaban dan Kerukunan”, bukan sekadar slogan. Ia mencerminkan komitmen kolektif masyarakat untuk merawat persatuan di tengah keberagaman budaya dan agama yang telah lama menjadi fondasi kehidupan mereka.
Gagasan besar ini lahir dari musyawarah mufakat antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Mereka sepakat bahwa sejarah panjang Torout layak dikenang secara meriah agar generasi mendatang memahami akar perjuangan para pendiri. Kemeriahan dimulai dengan pawai di sepanjang jalan utama desa. Barisan dipimpin pertunjukan ikonik Tari Kabasaran, tarian adat Minahasa yang penuh semangat, diikuti ratusan anak sekolah dari tingkat TK hingga SMA. Mantan pejabat Hukumtua, tokoh adat, tokoh agama, dan warga dari berbagai lapisan memadati lokasi, menciptakan suasana gotong royong yang hangat.

Namun, di balik kemeriahan dan nilai historis yang tinggi, terselip rasa kecewa. Hingga acara berakhir, tidak satu pun perwakilan pemerintah kabupaten—baik Bupati, Wakil Bupati, maupun utusan resmi dinas—hadir. Anggota dewan yang wilayah pemilihannya mencakup Kecamatan Tompaso Baru juga absen, padahal undangan resmi telah dikirim jauh-jauh hari oleh panitia. Ketidakhadiran tersebut tidak mengurangi semangat warga. Seluruh rangkaian acara tetap berjalan kondusif, damai, dan aman berkat swadaya serta kekompakan masyarakat sendiri.
Dalam sambutannya, Ibu Hukumtua Desa Torout mengajak warga mengingat kembali memori kolektif perjuangan para tua-tua kampung. Ia menuturkan perjalanan panjang terbentuknya desa hingga berkembang pesat di bawah kepemimpinan Hukumtua dari masa ke masa. Momentum perayaan perdana ini bertepatan dengan hari ulang tahun Ibu Hukumtua, menambah makna emosional bagi masyarakat. Harapan besar digantungkan pada generasi muda Torout agar terus merawat adat istiadat, mempertahankan kearifan lokal, dan mempererat toleransi antarumat beragama.
Acara ditutup dengan prosesi pemasangan lilin dan pemotongan kue ulang tahun desa. Suasana religius dan damai terasa kuat ketika Imam Masjid Desa Torout, para Pendeta, dan Gembala berdiri bersama memimpin doa bersama demi kemakmuran dan kedamaian seluruh warga. Perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa persatuan dan kerukunan dapat tumbuh subur meski minim dukungan formal dari pejabat tinggi. Torout telah menunjukkan bahwa barometer peradaban sejati lahir dari akar rumput, bukan dari kursi undangan yang kosong.
Pewarta: Raden Karim
Tagline: #HUTDesaTorout125, #BarometerPeradaban, #KerukunanMinahasaMongondow, #SwadayaMasyarakat, #ToleransiBeragama, #SejarahTorout, #PawaiKabasaran, #DoaBersamaTorout,

