RI News. Jakarta, 25 Juli 2026 – Pelestarian permainan tradisional sebagai ruang tumbuh kembang anak harus terus digalakkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal itu ditegaskan Menteri Kebudayaan Fadli Zon karena perannya yang vital dalam membentuk karakter sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Menurut Fadli, permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang wajib dihidupkan. “Di tengah perkembangan teknologi digital, anak-anak tetap memerlukan ruang untuk bermain, berinteraksi, belajar bekerja sama, dan mengenal nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata,” ujarnya pada Festival “Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari” di Jakarta, Sabtu.
Indonesia memiliki ribuan permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa. Atas dasar itu, Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan serangkaian langkah sistematis untuk mendokumentasikan, meregistrasi, dan memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada masyarakat luas. Salah satu inisiatif strategis yang sedang disiapkan adalah rencana pengembangan museum permainan tradisional Indonesia.

“Kolaborasi yang kita lakukan hari ini menjadi langkah penting agar anak-anak kembali akrab dengan permainan yang membentuk karakter, kejujuran, kebersamaan, dan semangat gotong royong,” tegas Fadli.
Sebagai wujud dukungan konkret, Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Komunitas Hong menghadirkan beragam permainan tradisional bagi anak usia 5 hingga 8 tahun. Di antaranya congklak, bekel, gasing, dam-daman, kelom batok, ular naga, ampar-ampar pisang, cublek-cublek suweng, dan cing ciripit. Aktivitas ini dirancang agar anak-anak tidak hanya mengenal, tetapi juga merasakan langsung nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan pentingnya keseimbangan antara perlindungan anak di ruang digital dan penyediaan ruang nyata untuk pengalaman bermain. “Kita ingin menghadirkan generasi yang tumbuh melalui pengalaman, bukan hanya dari layar digital. Karena itu, perlindungan di ruang digital harus dibarengi dengan semakin banyak kesempatan bagi anak-anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya lokal yang menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka,” katanya.
Baca juga: Ari Lasso Siap Guncang Puncak Perayaan Hari Jadi ke-1.147 Kota Kediri
Festival “Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari” diinisiasi oleh Betadine Indonesia melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas, tenaga kesehatan, pendidik, dan keluarga. Tujuan utamanya adalah menghadirkan ruang bermain yang sehat bagi anak sekaligus memperkuat perlindungan anak di era digital melalui pendekatan budaya.
Digelar menjelang Hari Anak Nasional 2026, festival ini juga diisi dengan diskusi publik, olahraga keluarga, permainan edukatif, serta peluncuran Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga. Buku tersebut memuat berbagai inspirasi aktivitas positif di luar paparan layar digital. Seluruh rangkaian kegiatan ini turut mendukung implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, perlindungan digital, dan penguatan karakter, festival ini menjadi bukti bahwa permainan tradisional bukan sekadar hiburan masa lalu, melainkan fondasi penting bagi generasi masa depan yang tangguh, berbudaya, dan seimbang.
Pewarta: Justin
Tagline: #PermainanTradisional, #GenerasiBerani, #PelestarianBudaya, #AnakIndonesia, #KarakterBangsa, #RuangBermainSehat, #BudayaLokal, #HariAnakNasional2026,

