RI News. Dubai, United Arab Emirates, 8 Juli 2026 — Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran, menargetkan lebih dari 80 lokasi strategis termasuk sistem pertahanan udara, radar, dan puluhan kapal kecil milik Garda Revolusi. Langkah ini dilakukan hanya beberapa jam setelah tiga kapal dagang diserang di Selat Hormuz, memperburuk ketegangan di jalur perdagangan energi paling krusial di dunia.
Serangan tersebut berlangsung saat Iran sedang menggelar prosesi pemakaman nasional untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas di awal konflik. Para analis politik internasional menilai waktu serangan ini sangat sensitif, karena berpotensi mempersulit upaya diplomasi untuk membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya dan menghentikan program nuklir Iran yang kontroversial.
Menurut sumber militer AS, serangan ini merupakan respons langsung terhadap aksi penyerangan kapal-kapal dagang yang membawa awak sipil tak bersalah. Target utama mencakup fasilitas pelabuhan, sistem pengawasan pantai, serta pangkalan peluncuran rudal anti-kapal. Pejabat AS yang enggan disebut namanya menyebut bahwa Iran “tidak mendengarkan” peringatan sebelumnya, sehingga Washington memutuskan untuk “menaikkan intensitas” operasi.

Iran melalui Kementerian Luar Negerinya langsung mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan sementara yang sempat dicapai. Sementara itu, negara-negara Teluk dan sekutu AS menyatakan keprihatinan mendalam atas gangguan keamanan navigasi internasional yang dapat berdampak pada pasokan energi global.
Serangan kali ini tercatat sebagai yang terbesar dalam satu hari sejak akhir April. Sebelumnya, AS sempat mencabut izin sementara ekspor minyak Iran sebagai bentuk tekanan tambahan. Meski demikian, para diplomat Qatar dan negara-negara tetangga masih berupaya menjaga jalur komunikasi agar konflik tidak meluas lebih jauh.
Baca juga : Prabowo dan Modi Perkuat Ikatan Budaya Lewat Konservasi Candi Prambanan
Prosesi pemakaman Khamenei berlangsung di tengah situasi tegang. Jenazahnya telah dibawa ke Qom, kemudian ke Najaf dan Karbala di Irak, sebelum akhirnya akan dimakamkan di Mashhad. Putra Khamenei, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang kini menjadi Pemimpin Tertinggi baru, belum tampil di depan publik dan diyakini sedang dalam perlindungan ketat.
Krisis di Selat Hormuz ini semakin menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah. Meskipun kesepakatan sementara sempat memberi harapan perdamaian, serangkaian insiden kekerasan terbaru mengancam membawa wilayah tersebut kembali ke ambang perang terbuka yang lebih luas.
Pewarta: Setiawan Wibisono
Tagline: #SelatHormuz, #SeranganASkeIran, #Khamenei, #KonflikTimurTengah, #BeritaInternasional, #EskalasiMiliter, #DiplomasiGlobal,

