RI News, 27 Juni 2026 — Komunitas pecinta musik rock Tulungagung (Tulungagung Rock Community/TRC) siap menggelar Festival Tulungagung Distorsi 2026 yang akan menghadirkan energi distorsi gitar dan semangat pemberontakan musik rock-punk di panggung independen Jawa Timur.
Festival yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (28/6) di GOR Lembu Peteng, Tulungagung, ini akan menampilkan 21 band rock dan punk serta grup legendaris Power Metal sebagai bintang tamu utama. Selain itu, penonton juga akan disuguhkan penampilan band nasional seperti Marjinal dan Red Spider, serta belasan band lokal dari berbagai daerah yang turut memeriahkan ajang tersebut.
Penyelenggara festival, Andi Mahifal, menjelaskan bahwa Tulungagung Distorsi digagas sebagai wadah ekspresi bagi komunitas rock dan metal sekaligus upaya mendorong ekosistem musik independen di Tulungagung yang selama ini masih minim mendapat perhatian.

“Selama ini belum ada event yang benar-benar mewadahi musik rock dan metal di Tulungagung. Karena itu kami ingin menghadirkan festival yang bisa menjadi ruang bagi para musisi dan komunitas,” ujar Andi, Jumat.
Andi menambahkan, festival ini dirancang untuk menjadi agenda tahunan yang melibatkan berbagai komunitas musik dari seluruh Jawa Timur. Harapannya, ajang ini dapat memperkuat jejaring antarmusisi dan komunitas rock di tingkat daerah.
Panitia menyediakan sekitar 2.000 lembar tiket dengan harga Rp65.000 untuk early bird, Rp100.000 pada presale tahap kedua, serta penjualan on the spot di hari pelaksanaan.
Sementara itu, gitaris Power Metal Ipung mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan sekitar 10 lagu untuk dibawakan dalam penampilan spesial tersebut. Power Metal akan tampil diperkuat dua vokalis, Arul dan Bais, dalam format featuring.
“Kami berharap bisa memberikan penampilan terbaik sekaligus mendukung berkembangnya event musik rock dan metal di daerah,” kata Ipung.
Festival Tulungagung Distorsi 2026 juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat musik rock Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Sejak masuk pada era 1950-an sebagai tren Barat, rock kemudian bertransformasi menjadi identitas musik nasional pada 1970-an. Melalui dinamika sosial-politik, dari masa pelarangan hingga menjadi simbol perlawanan dan kebebasan berekspresi, genre ini terus berevolusi.
Pada masa transisi Orde Lama ke Orde Baru, lahir pelopor-pelopor yang memadukan rock Barat dengan unsur lokal, seperti God Bless, The Rollies, AKA, dan Duo Kribo. Memasuki 1990-an, rock mencapai puncak keemasannya dengan band-band ikonik seperti Slank, Boomerang, dan Jamrud yang menyuarakan keresahan sosial. Kini, di era 2000-an hingga saat ini, rock terus berkembang melalui subgenre dan band-band independen yang menjaga eksistensinya di tengah perubahan industri musik.
Pewarta : Wisnu H
Tagline: #TulungagungDistorsi2026, #TRC, #PowerMetal, #RockIndonesia, #FestivalRockTulungagung, #MusikIndependen, #RockJatim,

