RI News. Brussels – Komandan tertinggi NATO sedang menyusun rencana cadangan untuk memperkuat pertahanan Eropa menyusul keputusan Amerika Serikat mengurangi kontribusi kekuatan udara dan lautnya dalam skenario krisis keamanan. Langkah ini menandai pergeseran strategis signifikan dalam aliansi transatlantik, di mana Eropa didorong untuk mengambil peran yang lebih mandiri menghadapi potensi ancaman Rusia.
Model Pasukan NATO, yang selama ini menjadi rencana utama penyediaan kekuatan dari 32 negara anggota, kini tengah dievaluasi ulang. Model tersebut mengatur pengerahan aset militer secara bertahap selama enam bulan pertama konflik. Namun, Pentagon secara resmi memberitahu sekutu bahwa komitmen AS akan dikurangi untuk memprioritaskan ancaman di kawasan Indo-Pasifik, terutama China.
Pengurangan mencakup kelompok kapal induk, kapal selam, pesawat tempur, pesawat patroli maritim, pesawat pengisi bahan bakar, dan drone. Meski demikian, dukungan kemampuan luar angkasa AS untuk penargetan masih tetap tersedia. Jenderal Alex Grynkewich, Panglima Tertinggi Sekutu NATO, menegaskan bahwa Washington tetap berkomitmen memberikan kemampuan krusial meski dalam skala terbatas.

“Kita perlu fokus pada hal-hal yang bisa diperoleh, dikerahkan, dan ditingkatkan dengan cepat serta berkelanjutan, termasuk senjata jarak jauh dan drone,” ujar Grynkewich dalam pernyataannya di ILA Berlin Air Show.
Pertemuan sekutu pada awal Juni lalu menyimpulkan bahwa negara-negara Eropa dan Kanada harus segera mengisi kekosongan dengan menyediakan pesawat berawak dan tanpa awak serta kapal perang. Pejabat NATO menyatakan bahwa detail waktu pengurangan aset AS dan penggantian oleh sekutu masih terus dirampungkan.

Kondisi ini menjadi ujian bagi Eropa yang selama ini bergantung pada “payung” keamanan AS. Banyak analis pertahanan menilai bahwa meski sumber daya militer Eropa terbatas, momentum ini dapat mempercepat investasi bersama dalam industri pertahanan dan pengembangan kemampuan otonom.
Sementara itu, NATO juga mengumumkan pengurangan pasukan penjaga perdamaian KFOR di Kosovo. Langkah optimalisasi ini diambil seiring meredanya ketegangan di wilayah tersebut, meski AS masih menjadi kontributor terbesar kedua setelah Italia. Jenderal Grynkewich menekankan bahwa keputusan ini bukan sekadar soal jumlah pasukan, melainkan efisiensi dan keamanan jangka panjang penduduk Kosovo.
Di tengah perkembangan ini, laporan intelijen Eropa menunjukkan Rusia saat ini masih terkuras oleh perang di Ukraina dan belum menunjukkan indikasi langsung ingin berkonflik dengan NATO. Namun, para pemimpin Eropa mewaspadai kemungkinan Moskow dapat melancarkan ancaman baru dalam 3–5 tahun ke depan jika berhasil mencapai tujuannya di Ukraina.
Pertemuan puncak NATO di Turki pada Juli mendatang dipandang sebagai momentum krusial bagi para pemimpin Eropa untuk menyampaikan komitmen konkret dalam mengisi kekosongan pertahanan. Pergeseran ini berpotensi membentuk arsitektur keamanan Eropa yang lebih mandiri di masa depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #NATO, #PertahananEropa, #AncamanRusia, #AliansiTransatlantik, #StrategiMiliter, #KeamananGlobal, #PenguranganPasukanAS,

