RI News. Kuningan – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi menetapkan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai model integrasi nasional program Indonesia FOLU Net Sink 2030. Penunjukan ini menandai pengakuan atas keberhasilan restorasi ekosistem yang tidak hanya berhasil menekan emisi karbon, tetapi juga mengubah paradigma pengelolaan hutan melalui keterlibatan aktif masyarakat lokal.
Kepala Balai TN Gunung Ciremai, Toni Anwar, menyatakan bahwa kawasan konservasi kini ditempatkan sebagai instrumen strategis dalam menjaga stok karbon nasional. “Ini langkah konkret menjaga cadangan karbon agar tidak terlepas ke atmosfer, sekaligus bagian dari upaya mencapai target FOLU Net Sink 2030,” tegasnya.
Menurut data restorasi yang berhasil dicapai, tutupan vegetasi di TNGC meningkat drastis dari sekitar 50 persen menjadi hampir 90 persen. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata kontribusi kawasan konservasi terhadap Second National Determined Contribution (NDC) Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca.

Yang membuat TN Gunung Ciremai berbeda sebagai model nasional adalah pendekatan berbasis masyarakat yang diterapkan. Sebanyak 54 desa di sekitar kawasan yang dulunya bergantung pada penggarapan lahan kini telah bertransformasi menjadi mitra pengelola wisata alam. Transformasi profesi ini berhasil meredam konflik agraria sekaligus membuka peluang ekonomi hijau.
Toni Anwar menjelaskan, “Kelestarian ekosistem adalah aset utama ekonomi mereka. Sinergi ini yang kami dorong menjadi model pengelolaan hutan berbasis masyarakat secara nasional.” Pendekatan ini menciptakan simbiosis mutualisme di mana perlindungan alam berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga.
TNGC juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang kaya, dengan 279 jenis flora dan puluhan jenis fauna, termasuk Elang Jawa sebagai salah satu spesies ikonik yang dilindungi. Upaya patroli rutin dan pengawasan ketat terus dilakukan untuk mencegah perambahan dan kebakaran hutan, sehingga stok karbon tetap terjaga.
Program ini sejalan dengan strategi nasional menekan laju deforestasi di bawah 0,31 juta hektare per tahun. Kemenhut berharap penguatan fungsi 57 taman nasional di Indonesia dapat menjadi tulang punggung pencapaian target penurunan emisi sebesar 1,6 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2030.
Pelibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan. Toni Anwar menekankan, “Melalui partisipasi aktif masyarakat, kita membuktikan bahwa perlindungan biodiversitas dan pencapaian target emisi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup komunitas lokal.”
Keberhasilan TN Gunung Ciremai diharapkan dapat direplikasi di kawasan konservasi lain di Indonesia. Model ini tidak hanya menunjukkan efektivitas pengelolaan hutan untuk mitigasi perubahan iklim, tetapi juga membuktikan bahwa konservasi yang inklusif mampu memberikan manfaat ganda: ekologis sekaligus sosial-ekonomi.
Dengan status sebagai model nasional FOLU Net Sink 2030, TN Gunung Ciremai kini menjadi inspirasi bahwa harmoni antara manusia dan alam bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan dapat diwujudkan melalui kebijakan yang tepat dan komitmen bersama.
Pewarta : Vie

