RI News. Cirebon – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Kirab Budaya Cirebon Mahkota Binokasih yang digelar di Kota Cirebon bukan sekadar ritual seremonial semata. Acara yang berlangsung Minggu malam itu, menurutnya, merupakan upaya strategis menghubungkan warisan masa lalu dengan visi pembangunan masa depan sekaligus memperkuat karakter bangsa.
Dalam sambutannya di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap sejarah sebagai fondasi kemajuan. “Masyarakat tidak bisa hanya sibuk memandang ke depan tanpa tahu akar dan filosofi yang diwariskan leluhur,” ujarnya. Ia memandang kirab ini sebagai kegiatan berorientasi masa depan yang membantu generasi muda memahami identitas budaya mereka.
Dedi menambahkan bahwa sejarah memainkan peran krusial dalam membentuk karakter bangsa. Tanpa pemahaman sejarah yang kuat, kata dia, setiap upaya pembangunan akan kehilangan arah dan makna. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks Napak Tilas Pajajaran yang dihadiri ribuan warga dan berbagai elemen masyarakat Cirebon.

Ia juga menegaskan eksistensi Kerajaan Pajajaran yang hingga kini masih hidup dalam berbagai warisan budaya Jawa Barat, mulai dari keraton hingga tradisi masyarakat. “Pajajaran itu memang ada dan tidak akan pernah pudar dimakan oleh zaman,” tegas Dedi Mulyadi. Mahkota Binokasih menjadi salah satu simbol nyata dari keberlanjutan peradaban tersebut.
Lebih lanjut, Gubernur menggambarkan Cirebon sebagai miniatur pluralisme Indonesia. Kota yang dikenal sebagai pusat perpaduan nilai agama, budaya, dan sejarah ini menunjukkan Islam yang inklusif dan toleran. Keberadaan Masjid Agung Sang Cipta Rasa serta tradisi Adzan Pitu menjadi bukti nyata bagaimana warisan para wali dan keraton masih lestari serta terus menginspirasi kehidupan harmonis antarumat.
Dedi Mulyadi juga menyampaikan komitmen konkret pemerintah provinsi untuk menata kawasan sekitar keraton Cirebon. Rencana penataan mencakup perbaikan kebersihan lingkungan, penataan trotoar yang lebih indah, serta revitalisasi sungai-sungai agar kembali terhubung dengan keraton dan laut. “Kalau keraton ini tertata rapi, jalan-jalannya bersih, trotoarnya terbentang indah, sungai-sungainya jernih, kemudian antara sungai dengan keraton tersambung lagi dengan laut, maka peradaban akan terbangun,” paparnya.
Baca juga : BRIN Ungkap Harta Karun Tersembunyi: 10 Spesies Anggrek Baru Memperkaya Peta Biodiversitas Indonesia
Visi ini mencerminkan pendekatan holistik yang tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi dan sosial melalui pariwisata sejarah yang berkualitas. Dengan demikian, Cirebon diharapkan dapat kembali menjadi pusat peradaban yang dinamis di Jawa Barat.
Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran ini mendapat perhatian luas karena berhasil menyatukan elemen ritual, edukasi sejarah, dan semangat kebangsaan dalam satu rangkaian acara yang khidmat sekaligus meriah. Kehadiran Gubernur Dedi Mulyadi secara langsung semakin menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pelestarian dan pengembangan budaya sebagai pilar utama pembangunan.
Pewarta : Anjar Bramantyo


