RI News. Pemalang – Fasilitas publik seperti trotoar dan bahu jalan seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki dan kelancaran lalu lintas. Namun di kawasan Taman Patih Sampun, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, realitasnya jauh berbeda. Ratusan sepeda motor milik siswa dari berbagai sekolah menengah di sekitar lokasi memenuhi bahu jalan hingga trotoar, sehingga masyarakat kesulitan mengakses ruang publik tersebut.
Pemandangan ini bukan sekadar ketidaknyamanan sementara. Setiap hari, terutama saat jam sekolah, area di sepanjang Jalan Gatot Subroto depan taman dipadati deretan motor yang parkir berlapis. Akibatnya, pejalan kaki terpaksa berjalan di pinggir aspal yang rawan kecelakaan, sementara arus lalu lintas menjadi tersendat.
Kurniawan (45), seorang warga yang sering melintas di lokasi tersebut, mengungkapkan kekecewaannya. “Sangat mengganggu arus lalu lintas di situ. Dan kasihan pejalan kaki, karena terhalang oleh ratusan motor yang diparkirkan,” keluhnya saat ditemui Kamis (9/4).

Taman Patih Sampun sendiri merupakan ruang terbuka hijau yang diresmikan beberapa tahun lalu oleh mantan Bupati Pemalang untuk menjadi sarana rekreasi dan bersantai bagi warga. Kehadiran taman ini awalnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Namun kini, sebagian besar fungsinya tergeser karena area di sekitarnya justru dimanfaatkan sebagai lahan parkir tidak resmi yang melayani titipan kendaraan siswa.
Kepala Unit Pengelola Perparkiran Dinas Perhubungan Kabupaten Pemalang, Ary Dwi, mengakui bahwa pihaknya telah berulang kali melakukan pembinaan. “Untuk yang kesekian kali, kami sudah melakukan pembinaan kepada juru parkir di situ agar parkir satu lapis saja, sisanya ditata di dalam,” ujar Ary saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (9/4).
Meski demikian, pengingatan tersebut tampaknya belum membuahkan perubahan signifikan di lapangan. Parkir tetap berlapis dan merambah ke trotoar, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan serta komitmen bersama antara pengelola parkir, sekolah, dan pemerintah daerah dalam menjaga ruang publik.
Baca juga : Pengakuan Prestasi di Balik Jeruji: Lapas Kendal Sematkan Tanda Pangkat Baru bagi Tujuh Pegawai
Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih luas di banyak kota di Indonesia, di mana kebutuhan parkir kendaraan pelajar sering kali bertabrakan dengan hak atas ruang publik yang layak. Tanpa penanganan yang tegas dan solusi alternatif seperti pembangunan parkir terpusat atau kerja sama dengan sekolah untuk manajemen drop-off, dikhawatirkan taman yang dibangun untuk kenyamanan warga justru kehilangan esensinya.
Warga berharap agar pemerintah daerah segera menemukan solusi permanen, mulai dari penertiban parkir hingga penyediaan area parkir khusus yang tidak mengorbankan trotoar dan bahu jalan. Sebab, ruang publik yang sehat bukan hanya soal estetika, melainkan juga keselamatan dan kenyamanan seluruh masyarakat.
Pewarta : Ragil Surono

