RI News. Beirut, Selatan Lebanon – Dalam eskalasi konflik yang semakin meluas, serangan udara Israel menghantam sebuah pusat kesehatan primer di desa Burj Qalaouiyah, distrik Bint Jbeil, Lebanon selatan, pada 13 Maret 2026. Insiden itu menewaskan secara instan 12 petugas medis yang sedang bertugas—termasuk dokter, perawat, dan paramedis—sementara satu orang mengalami luka berat dan empat lainnya tertimbun reruntuhan selama beberapa jam sebelum dievakuasi.
Pusat kesehatan tersebut dikelola oleh Islamic Health Society (Masyarakat Kesehatan Islam), lembaga kemanusiaan yang berafiliasi dengan Hizbullah namun bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Lebanon untuk menyediakan layanan medis dan darurat bagi masyarakat umum, terutama di wilayah pedesaan dan pinggiran yang kurang terlayani. Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon per 16 Maret 2026, serangan-serangan semacam ini telah menewaskan setidaknya 40 petugas kesehatan dan melukai 96 lainnya sejak konflik meletus kembali pada 2 Maret 2026. Islamic Health Society menjadi target paling sering, dengan lebih dari dua lusin anggotanya tewas dalam dua minggu terakhir.
Konflik ini bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah utara Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang terjadi kurang dari dua hari setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Israel kemudian membalas dengan kampanye udara intensif di berbagai wilayah Lebanon, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, dan selatan Lebanon. Hingga kini, lebih dari 1.000 warga Lebanon tewas dan lebih dari satu juta orang mengungsi, terutama dari wilayah selatan dan pinggiran selatan Beirut.

Berbeda dari konflik sebelumnya, pendekatan Israel kali ini tampaknya tidak hanya menyasar infrastruktur militer Hizbullah, melainkan juga jaringan sipil yang selama ini menjadi fondasi dukungan sosial kelompok tersebut. Selain pusat kesehatan, Israel telah menghancurkan puluhan cabang al-Qard al-Hasan—lembaga keuangan nirlaba yang memberikan pinjaman tanpa bunga bagi masyarakat berpenghasilan rendah—serta menyerang SPBU, toko diskon subsidi, dan bahkan markas media seperti Al-Manar TV. Pejabat militer Israel mengklaim bahwa fasilitas-fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan militer Hizbullah, termasuk pengangkutan senjata melalui ambulans, meskipun tuduhan itu dibantah keras oleh pihak Lebanon dan lembaga kemanusiaan terkait.
Amnesty International menegaskan bahwa serangan terhadap cabang al-Qard al-Hasan dan fasilitas kesehatan tidak memenuhi kriteria target militer yang sah menurut hukum kemanusiaan internasional. “Memberi label ‘afiliasi Hizbullah’ pada petugas kesehatan, rumah sakit, atau lembaga keuangan tidak secara otomatis menjadikannya sasaran yang boleh diserang,” kata perwakilan organisasi tersebut. Beberapa pengamat menyebut pola ini sebagai upaya sistematis untuk melemahkan ketahanan sosial masyarakat di wilayah pendukung Hizbullah.
Di sisi lain, pejabat militer Israel menegaskan bahwa operasi darat yang semakin diperluas di selatan Sungai Litani bertujuan untuk “membongkar infrastruktur Hizbullah, mendorong pasukannya ke utara, dan menghilangkan ancaman permanen di perbatasan.” Kepala Staf Angkatan Darat Israel menyatakan bahwa Hizbullah sedang menghadapi “pertempuran eksistensial” dan akan terus menghadapi tekanan yang meningkat.
Pemimpin Hizbullah menanggapi dengan pernyataan tegas bahwa kelompoknya tidak akan menyerah dan akan terus melawan. Sementara itu, pemerintah Lebanon—yang kini secara terbuka menyatakan aktivitas militer Hizbullah sebagai ilegal—telah memerintahkan penahanan beberapa anggota kelompok itu yang membawa senjata tanpa izin.
Para analis politik melihat konflik ini sebagai perang yang berbeda dari sebelumnya. “Ini bukan lagi soal gencatan senjata sementara,” ujar seorang pengamat dari Beirut. “Tujuannya adalah menghapus keberadaan Hizbullah tidak hanya sebagai kekuatan bersenjata, tetapi juga sebagai aktor politik dan sosial yang berpengaruh di Lebanon.” Di tengah tekanan internal dan eksternal, Lebanon kini menghadapi risiko disintegrasi sosial yang lebih dalam, sementara jutaan warganya terjebak dalam siklus kekerasan yang tak kunjung reda.
Pewarta : Setiawan Wibisono

