RI News. Dubai, United Arab Emirates — Fasilitas pengayaan uranium Natanz kembali menjadi sasaran serangan udara pada Sabtu pagi, menandai eskalasi terbaru dalam konflik Timur Tengah yang kini memasuki minggu keempat. Kantor berita resmi Iran mengkonfirmasi serangan tersebut namun menegaskan tidak terjadi kebocoran radiasi atau kontaminasi lingkungan di luar area fasilitas.
Serangan kali ini terjadi hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyampaikan pernyataan tegas melalui rekaman video: “Minggu depan intensitas operasi gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap rezim Teheran akan meningkat secara dramatis.” Pernyataan itu disiarkan tak lama setelah serpihan rudal Iran mendarat di halaman sebuah TK kosong di pinggiran Tel Aviv—insiden yang kembali menegaskan kerentanan wilayah sipil meski tanpa korban jiwa kali ini.
Di Teheran, warga melaporkan rentetan ledakan keras dan getaran kuat sepanjang malam hingga subuh. Sementara di Baghdad, serangan drone menghantam gedung intelijen Irak dan menewaskan seorang perwira senior. Hingga kini belum ada pihak yang mengklaim tanggung jawab atas insiden tersebut.

Di sisi lain Samudra Hindia, upaya Iran menyerang pangkalan udara bersama Inggris-Amerika di Diego Garcia pada Jumat malam gagal total. Jarak 4.000 kilometer dari pantai Iran tidak menghalangi Teheran untuk mencoba, meski rudal-rudal tersebut tidak berhasil mendekati sasaran secara signifikan. London langsung mengecam keras “tindakan sembrono” tersebut dan menegaskan kembali izin penggunaan basis-basisnya oleh pesawat pengebom AS untuk melindungi lalu lintas Selat Hormuz.
Paradoks terlihat jelas dari Washington. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan sedang mempertimbangkan “pengakhiran bertahap” operasi militer di kawasan, namun dalam waktu hampir bersamaan Pentagon mengumumkan pengerahan tiga kapal serbu amfibi tambahan beserta 2.500 Marinir ke Timur Tengah—menambah kekuatan yang sudah mencapai lebih dari 50.000 personel. Trump juga meminta tambahan anggaran perang sebesar 200 miliar dolar kepada Kongres, angka yang jarang dibahas secara terbuka di tengah retorika “penarikan”.
Langkah paling mengejutkan adalah pencabutan sementara sanksi terhadap minyak Iran yang sudah dimuat di kapal per Jumat lalu—kebijakan yang berlaku hingga 19 April mendatang. Pejabat senior AS menyebut langkah itu sebagai upaya menahan laju kenaikan harga bahan bakar domestik setelah harga Brent melonjak mendekati 106 dolar per barel, naik lebih dari 50 persen sejak konflik meletus.
Baca juga : Ronaldo Rayakan Idul Fitri dengan Pesan Damai dan Penampilan Tradisional
Analis energi internasional menilai kebijakan tersebut bersifat simbolis karena Iran telah lama mengembangkan jaringan “bayangan” untuk mengekspor minyak di bawah radar sanksi. Dengan demikian, pasokan tambahan yang diharapkan tidak akan signifikan, sementara ketegangan geopolitik terus menjadi penggerak utama harga komoditas.
Di lapangan, militer Israel melancarkan gelombang serangan baru terhadap posisi Hizbullah di pinggiran selatan Beirut pada Sabtu dini hari. Evakuasi massal kembali diperintahkan di tujuh kawasan, diikuti asap tebal, kebakaran, dan dentuman yang terdengar hingga pusat kota. Pemerintah Lebanon melaporkan korban tewas akibat serangan-serangan sebelumnya terhadap Hizbullah telah melampaui 1.000 jiwa, dengan lebih dari satu juta warga mengungsi.
Korban jiwa akibat perang yang dimulai akhir Februari ini terus bertambah: lebih dari 1.300 di Iran, 19 di Israel dan wilayah pendudukan, serta setidaknya 13 personel militer Amerika. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan sedang memantau situasi Natanz pasca-serangan terbaru dan sejauh ini tidak mendeteksi peningkatan radiasi di luar lokasi.

Di tengah kabut informasi yang tebal dari Teheran, pertanyaan mendasar masih menggantung: seberapa parah kerusakan sebenarnya yang dialami infrastruktur strategis Iran, dan siapa yang saat ini benar-benar memegang kendali penuh di ibu kota? Sementara itu, ancaman Jenderal Abolfazl Shekarchi bahwa “taman, pusat rekreasi, dan destinasi wisata di seluruh dunia” tidak akan aman bagi musuh Iran semakin memperluas bayang-bayang ketakutan ke luar kawasan.
Konflik yang semula diproyeksikan berlangsung singkat kini menunjukkan tanda-tanda berubah menjadi perang berkepanjangan dengan konsekuensi ekonomi dan kemanusiaan yang semakin luas—dan belum terlihat tanda akhir yang jelas di ufuk depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

