RI News. Dubai, United Arab Emirates — Memasuki pekan ketiga konflik terbuka antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel, Teheran mengeluarkan peringatan evakuasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur sipil negara tetangga. Pada Sabtu (14 Maret 2026), otoritas Iran secara terbuka mendesak penduduk meninggalkan tiga pelabuhan utama di Uni Emirat Arab (UEA): Jebel Ali di Dubai yang menjadi pusat perdagangan tersibuk di Timur Tengah, Khalifa di Abu Dhabi, serta Fujairah yang krusial bagi pengisian bahan bakar kapal global.
Pernyataan ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi Iran. Sejauh ini, Teheran secara konsisten mengklaim bahwa serangan rudal dan drone-nya hanya menyasar aset militer Amerika Serikat. Namun, kali ini ancaman secara eksplisit mencakup fasilitas non-militer UEA, dengan alasan bahwa pelabuhan-pelabuhan tersebut digunakan sebagai basis peluncuran serangan AS terhadap Pulau Kharg—terminal ekspor minyak utama Iran—serta Pulau Abu Musa. Klaim tersebut disampaikan tanpa bukti konkret yang dipublikasikan, meskipun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara spesifik menyebut lokasi di Ras Al-Khaimah dan area dekat Dubai sebagai titik asal serangan.
Beberapa jam setelah peringatan, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan yang meningkat namun belum mencapai puncak serangan langsung. Tidak ada laporan serangan besar terhadap Jebel Ali atau Khalifa, tetapi puing drone Iran yang berhasil dicegat memicu kebakaran di fasilitas minyak Fujairah, menandakan risiko spillover yang nyata ke wilayah sipil. Respons UEA tetap terkendali: seorang penasihat diplomatik senior menegaskan hak bela diri sambil menekankan prioritas pada “akal sehat dan pengendalian diri”.

Dari perspektif geopolitik, langkah Iran ini mencerminkan upaya untuk memperluas tekanan tidak hanya ke Washington dan Tel Aviv, tetapi juga ke sekutu regional AS di Teluk. Dengan menargetkan pelabuhan komersial, Teheran berupaya mengganggu rantai pasok global sekaligus mengirim sinyal bahwa konflik tidak lagi terbatas pada pertukaran militer bilateral. Hal ini berpotensi mengubah dinamika keamanan Teluk yang selama ini bergantung pada asumsi bahwa aset sipil relatif aman dari eskalasi langsung.
Secara paralel, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa serangan Jumat lalu telah “menghancurkan” instalasi militer di Pulau Kharg, dan mengancam akan menyasar infrastruktur minyak Iran jika gangguan terhadap lalu lintas Selat Hormuz berlanjut. Selat tersebut—koridor yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia—telah mengalami penurunan drastis aktivitas kapal tanker sejak awal Maret. Trump mendesak China, Jepang, Korea Selatan, Prancis, Inggris, dan negara lain untuk mengirim kapal perang guna menjaga jalur tersebut tetap terbuka, sebuah seruan yang oleh Araghchi disebut sebagai “permohonan” dan oleh analis regional dipandang sebagai indikasi kerentanan posisi AS dalam menangani krisis maritim unilateral.
Di sisi lain, dampak kemanusiaan semakin meluas. Di Lebanon, serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah menewaskan lebih dari 800 orang dan mengungsikan sekitar 850.000 warga. Di Irak, serangan rudal terhadap helipad di kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad menambah ketegangan, mendorong Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan evakuasi darurat bagi warganya melalui jalur darat. Sementara itu, penempatan tambahan 2.500 Marinir AS bersama kapal serbu amfibi USS Tripoli ke kawasan—sebagian dari buildup militer terbesar dalam dekade terakhir—menunjukkan persiapan untuk skenario yang lebih luas, meski belum tentu berujung operasi darat.
Baca juga : Pemkot Solo Cairkan THR bagi 9.197 ASN, Termasuk PPPK Paruh Waktu, Sebagai Dukungan Ekonomi Jelang Idulfitri
Konflik ini juga menelan korban di pihak AS: enam anggota militer tewas dalam kecelakaan pesawat pengisi bahan bakar di Irak barat, menambah beban politik domestik di Washington. Di tengah lonjakan harga minyak global dan ancaman gangguan pasokan energi, pertanyaan mendasar muncul: apakah eskalasi ini masih dapat dikendalikan, atau telah memasuki fase di mana kepentingan ekonomi dunia menjadi sandera langsung dari dinamika militer regional?
Hingga kini, belum ada tanda de-eskalasi yang jelas. Komando militer gabungan Iran kembali menegaskan ancaman terhadap infrastruktur energi terkait AS jika fasilitas minyak mereka diserang lebih lanjut. Di sisi lain, Israel melaporkan telah menghantam lebih dari 200 target di Iran dalam 24 jam terakhir. Situasi ini menempatkan kawasan Teluk—dan dunia—di ambang ketidakpastian yang lebih dalam.
Pewarta : Setiawan Wibisono

