RI News Portal. Jakarta, 15 Februari 2026 – Amerika Serikat terus mengintensifkan tekanan militer terhadap sisa-sisa kelompok teroris Islamic State (ISIS) di Suriah melalui serangkaian serangan udara presisi yang berlangsung sejak akhir 2025. Dalam pengumuman terbaru dari Komando Pusat AS (CENTCOM), pasukan AS melancarkan 10 serangan terhadap lebih dari 30 target ISIS antara 3 hingga 12 Februari 2026, menghancurkan fasilitas penyimpanan senjata, pusat logistik, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Operasi ini merupakan bagian dari Operation Hawkeye Strike, kampanye pembalasan berkelanjutan yang dimulai sejak 19 Desember 2025, menyusul penyergapan mematikan di dekat Palmyra pada 13 Desember 2025. Penyergapan tersebut menewaskan dua prajurit AS dari Garda Nasional Iowa—Sersan Edgar Brian Torres-Tovar dan Sersan William Nathaniel Howard—serta seorang penerjemah sipil Amerika, Ayad Mansoor Sakat. Serangan itu dilakukan oleh seorang anggota polisi Suriah yang diduga berafiliasi dengan ISIS, menandai korban militer AS pertama di Suriah pasca-jatuhnya rezim Assad.
Sejak dimulainya operasi, pasukan AS dan mitra telah menghantam lebih dari 100 target ISIS dengan ratusan munisi berpemandu presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur konvensional, helikopter serbu, serta drone tanpa awak. Gelombang serangan awal pada Desember 2025 menghantam sekitar 70 lokasi di wilayah tengah Suriah, diikuti serangan besar kedua pada 10 Januari 2026 yang menargetkan lebih dari 35 fasilitas dengan melibatkan lebih dari 20 pesawat, termasuk dukungan dari angkatan udara Yordania.

Pada periode 27 Januari hingga 2 Februari 2026, serangan lanjutan berhasil menghancurkan situs komunikasi, simpul logistik krusial, dan gudang senjata ISIS menggunakan sekitar 50 munisi presisi. Secara keseluruhan, operasi ini telah menyebabkan lebih dari 50 militan ISIS tewas atau ditangkap, meskipun angka korban sipil tidak diumumkan secara resmi.
CENTCOM menegaskan bahwa serangan-serangan ini bertujuan menjaga tekanan militer tanpa henti terhadap jaringan teroris yang berupaya bangkit kembali di tengah perubahan dinamika politik Suriah pasca-Assad. “Kami berkomitmen untuk membasmi ancaman terorisme yang mengarah pada prajurit kami, mencegah serangan masa depan, serta melindungi pasukan Amerika dan mitra regional,” demikian pernyataan resmi CENTCOM.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Suriah melaporkan pengambilalihan sebuah pangkalan penting di timur negara itu yang sebelumnya dikuasai pasukan AS selama bertahun-tahun. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran kontrol wilayah di tengah operasi anti-ISIS yang melibatkan berbagai aktor.
Meski tidak ada laporan korban jiwa dari pihak AS dalam serangan terbaru, operasi ini mencerminkan pendekatan tegas administrasi Trump dalam menangani ancaman terorisme di Timur Tengah, dengan pesan yang tegas: “Jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan dan menghabisi Anda di mana pun, tanpa ampun.”
Operasi Hawkeye Strike—yang dinamai untuk menghormati kedua prajurit yang gugur—diyakini akan berlanjut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mencegah ISIS meregenerasi kekuatan di kawasan yang masih tidak stabil.
Pewarta : Setiawan Wibisono

