RI News Portal. Bantul, Yogyakarta – Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala akan segera menyambut kehadiran pesawat bersejarah yang pernah menjadi bagian dari armada VVIP kepresidenan era Presiden Soeharto. Pesawat Fokker F-28 tersebut dijadwalkan menjadi koleksi baru yang menonjol, ditempatkan secara strategis di halaman depan kompleks museum.
Kolonel Kal Christian Tri Aryono, Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala (Muspusdirla), menyampaikan hal tersebut saat ditemui di lokasi museum, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu (11/2). Menurutnya, penambahan koleksi ini merupakan langkah penting dalam memperkaya narasi sejarah penerbangan nasional, khususnya yang berkaitan dengan transportasi kepresidenan.
“Untuk ke depannya yang kami tunggu, yang paling depan itu adalah Fokker F-28,” ungkap Christian.

Ia menjelaskan bahwa penempatan pesawat di area terdepan museum bukan keputusan sembarangan, melainkan sesuai arahan langsung dari Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono. “Sesuai perintah dari KSAU bahwa pesawat itu akan kami tempatkan di depan,” tambahnya.
Langkah ini memiliki tujuan edukatif yang mendalam. Dengan memosisikan Fokker F-28 di halaman depan, pengunjung dapat langsung mengamati bentuk dan detail pesawat VVIP tersebut sejak memasuki area museum. Bahkan, kesempatan untuk memasuki interior pesawat diharapkan dapat diberikan, sehingga masyarakat—terutama generasi muda—dapat memahami secara langsung standar dan karakteristik pesawat yang pernah digunakan untuk kepentingan kenegaraan pada masa lalu.
“Penempatan itu untuk edukasi bahwa pesawat VVIP yang kami punya itu seperti apa,” tegas Christian. “Para pengunjung dapat melihat langsung pesawat tersebut, bahkan memasukinya.”
Baca juga : Tragedi Bohodukhiv: Serangan Drone Menghapus Satu Keluarga
Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, yang terletak di kawasan Pangkalan Udara Adisutjipto, telah lama dikenal sebagai pusat pelestarian sejarah dirgantara Indonesia. Koleksi yang ada mencakup berbagai jenis pesawat dari era awal kemerdekaan hingga perkembangan modern TNI AU, mulai dari pesawat tempur legendaris hingga alat angkut bersejarah. Penambahan Fokker F-28 ini diharapkan semakin memperkuat peran museum sebagai wadah pembelajaran tentang evolusi penerbangan militer dan sipil di tanah air, sekaligus mengenang peran pesawat tersebut dalam mendukung tugas kenegaraan pada periode Orde Baru.
Dengan pendekatan penataan yang terbuka dan mudah diakses, inisiatif ini mencerminkan komitmen TNI AU untuk menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap perjalanan teknologi dan sejarah penerbangan nasional, sembari terus menginspirasi minat masyarakat terhadap dunia dirgantara.
Pewarta : Lee Anno

