RI News Portal. Wonogiri – Untuk menjaga sterilisasi lingkungan, mencegah pencemaran, serta menghindari bau tidak sedap, SPPG Desa Gunungsari, Kecamatan Jatisrono, menerapkan prosedur pengelolaan limbah yang aman, mulai dari pemilihan bahan baku hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komprehensif.
Erna, Kepala SPPG Desa Gunungsari, Jatisrono, menegaskan hal tersebut saat ditemui wartawan. Ia memastikan bahwa seluruh proses—mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, memasak, hingga pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG)—dilaksanakan secara aman dan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh SPPG serta Badan Gizi Nasional (BGN). Program ini menjangkau 14 sekolah penerima manfaat.
Erna mengajak awak media untuk melihat langsung seluruh fasilitas, mulai dari ruang dapur SPPG hingga area luar, termasuk sistem pengemasan dan pembuangan limbah melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Bahkan sebelum bahan baku tiba, pemasok telah memberikan jaminan mutu yang ditandatangani melalui perjanjian kesepakatan bersama.

“Bahan baku yang datang harus grade A sehingga tetap segar. Jika ada bahan yang rusak atau kurang baik, kami sudah memiliki MoU dengan pemasok untuk segera menukarnya dengan yang berkualitas,” jelas Erna.
SPPG Desa Gunungsari juga memastikan seluruh relawan atau karyawan mematuhi SOP ketat. Prosedur dimulai dari absensi, mencuci tangan sebelum memasuki dapur, hingga mengenakan penutup kepala dan sarung tangan selama bekerja.
“Karyawan dilarang mengenakan pakaian dari luar. Aksesori seperti cincin juga tidak boleh dipakai saat memasak dan memorsikan makanan. Oleh karena itu, kami menyediakan loker serta ruang ganti. Setelah menyimpan barang pribadi, mereka mengenakan APD, apron, dan sandal khusus sebelum masuk ke dapur,” ujarnya.
Selanjutnya, terkait penyimpanan, Erna menjelaskan bahwa gudang dibagi menjadi gudang kering dan gudang basah. Gudang basah dijaga suhu normal di bawah 25 derajat Celsius saat tidak menyimpan bahan baku, dan disesuaikan sesuai jenis bahan saat penyimpanan dilakukan.
Baca juga : Pergantian Komando di Polres Gunungkidul: Semangat Baru untuk Keamanan dan Pelayanan Masyarakat
Sementara gudang kering digunakan untuk menyimpan bahan tahan lama hingga seminggu ke depan, seperti beras, minyak goreng, dan kecap. Semua bahan wajib diletakkan di atas rak agar tidak menyentuh lantai, sehingga terhindar dari kontaminasi suhu maupun serangga.
Dalam proses memasak, SPPG Desa Gunungsari menerapkan SOP khusus penggunaan pisau berdasarkan warna: pisau hijau hanya untuk sayuran, pisau merah untuk daging, dan pisau putih untuk buah-buahan. Penanak nasi menggunakan rice steamer khusus, sedangkan penggorengan dalam satu siklus dapat melayani 800–1.000 porsi.
Setelah masakan selesai, makanan wajib didinginkan terlebih dahulu selama 1–2 jam di dalam ompreng untuk mencegah kontaminasi akibat panas berlebih.

“Setelah matang, makanan harus didinginkan 1–2 jam karena suhu panas dapat memicu kontaminasi. Baru kemudian dilakukan pemorsian sesuai gramasi gizi yang dibutuhkan siswa. Ada tiga orang yang fokus pada tugas masing-masing: satu orang hanya memorsikan nasi, satu untuk protein, dan seterusnya,” tambah Erna.
Untuk pencucian ompreng, petugas diwajibkan melalui jalur belakang secara terpisah agar tidak melewati area dapur. Ompreng langsung masuk ke dish washer berkapasitas 40 unit, yang menggunakan air panas, bahan kimia, serta sabun pembersih khusus stainless steel hingga bersih sempurna.
“Setelah dicuci, petugas memastikan semua ompreng benar-benar bersih, kemudian dimasukkan ke dalam box pensteril,” pungkas Erna.
Pewarta: Nandar Suyadi

