RI News Portal. Tegal – Arus Sungai Kaligung kembali menunjukkan kekuatannya yang mengerikan setelah hujan lebat mengguyur wilayah hulu dan lereng Gunung Slamet selama beberapa hari terakhir. Puncaknya terjadi pada Selasa (10/2/2026) sore hingga malam, ketika debit air melonjak drastis dan memicu banjir bandang yang merobohkan jembatan lama di kawasan Bendung Pesayangan, Desa Pesayangan, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.
Pantauan langsung di lokasi memperlihatkan air sungai mengalir dengan kecepatan tinggi, berwarna cokelat pekat akibat lumpur dan material tanah yang terbawa. Potongan bambu, kayu besar, bahkan batang pohon ikut terseret arus deras, menambah daya rusak banjir bandang tersebut. Struktur jembatan tua yang telah lama menjadi penghubung penting warga setempat tak mampu menahan hantaman berulang dari material tersebut, hingga akhirnya pondasi ambruk dan sebagian badan jembatan terseret ke hilir sekitar pukul 18.00 WIB.
Di sekitar Jembatan Ekoproyo yang berada di wilayah yang sama, luapan air terlihat mendekati bibir bantaran, membuat warga sekitar cemas. Banyak penduduk dari desa-desa tetangga berdatangan untuk menyaksikan langsung fenomena alam yang jarang terjadi sebesar ini. Namun, kerumunan tersebut justru memunculkan risiko baru: sejumlah orang terlihat berdiri terlalu dekat dengan tepi sungai, meski arus masih ganas dan berpotensi menimbulkan bahaya mendadak seperti longsor tebing atau hantaman kayu besar.

“Saya sudah tinggal di sini puluhan tahun, tapi debit dan kecepatan arus seperti ini baru pertama kali saya lihat. Jembatan yang sudah jadi saksi sejarah desa langsung hanyut begitu saja,” ungkap Sutrisno, seorang warga Talang yang rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian.
Roni (34), warga lain, menceritakan bagaimana banjir datang secara tiba-tiba. “Pagi masih biasa, airnya tenang. Tapi sore tiba-tiba naik cepat sekali, arusnya kencang banget, kayu-kayu besar ikut terbawa. Sungguh menakutkan,” katanya sambil menggelengkan kepala.
Kekhawatiran juga dirasakan Agus, pemilik rumah yang berjarak hanya puluhan meter dari bantaran. “Kalau hujan kembali turun deras malam ini atau besok, kami takut air naik lebih tinggi lagi. Sekarang saja jantung berdegup kencang setiap mendengar suara gemuruh dari sungai,” ujarnya.
Di tengah situasi tegang, warga saling mengingatkan untuk tidak nekat mendekati aliran. “Jangan turun ke pinggir sungai, arusnya masih kuat. Bisa-bisa tiba-tiba ada longsor atau kayu besar menghantam,” pesan seorang warga yang ikut memantau dari kejauhan.
Petugas desa, aparat keamanan, dan relawan gabungan langsung turun ke lapangan untuk mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Mereka menekankan pentingnya menjauhi bantaran sungai, menghindari kerumunan di titik rawan, serta terus mengikuti perkembangan cuaca dan informasi resmi dari instansi berwenang. Hingga Selasa malam, debit air masih tercatat tinggi meski mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi perlahan.
Warga berharap curah hujan segera mereda agar sungai kembali ke kondisi normal tanpa menelan korban jiwa maupun kerugian lebih besar. “Yang utama sekarang semua tetap waspada dan jaga keselamatan. Semoga air cepat surut dan tidak ada musibah lagi,” tutur seorang warga di lokasi.
Pewarta: Ikhwanudin

