RI News Portal. Tokyo – Di tengah musim dingin yang menusuk, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (64) sedang menjadi pusat perhatian nasional. Baru tiga bulan menjabat sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah negara itu, ia berani mengambil risiko tinggi dengan membubarkan majelis rendah parlemen dan memicu pemilu snap pada 8 Februari 2026. Langkah ini dipandang sebagai taruhan pribadi: jika koalisi yang dipimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) gagal mempertahankan mayoritas, Takaichi berjanji mundur.
Berbeda dari pendahulunya yang sering digambarkan sebagai figur pria lanjut usia dan berhati-hati, Takaichi membawa angin segar yang tak biasa. Ia dikenal sebagai penggemar berat musik heavy metal, sering mengendarai sepeda motor, dan bahkan memainkan drum bersama pemimpin negara sahabat. Gaya kepemimpinannya yang tegas namun santai—lengkap dengan slogan “kerja, kerja, kerja, kerja, kerja”—telah memicu gelombang dukungan yang disebut “Sanamania” atau “sanakatsu” di kalangan anak muda.
Generasi muda, yang biasanya apatis terhadap politik tradisional, kini mengikuti secara antusias pilihan busana, alat tulis favorit, hingga makanan kesukaannya seperti roti kukus isi daging babi. Fenomena ini jarang terjadi di Jepang, di mana loyalitas perusahaan dan budaya kerja panjang sering mendominasi narasi publik. Survei opini terbaru menunjukkan tingkat persetujuan Takaichi tetap tinggi di kisaran 60-70 persen, meski sempat sedikit tergelincir pada Januari lalu.

Keputusan menggelar pemilu mendadak ini bukan tanpa kontroversi. Takaichi mengaku mempertaruhkan masa depannya demi mendapatkan mandat langsung dari rakyat untuk agenda konservatifnya yang hawkish. Ia ingin memperkuat kemampuan pertahanan Jepang, meningkatkan anggaran militer, dan mendorong pendidikan patriotik yang lebih kuat—kebijakan yang menggemakan mentornya almarhum Shinzo Abe, bahkan dengan intensitas lebih tinggi.
Di panggung internasional, Takaichi juga menarik perhatian. Pernyataannya yang tegas soal potensi ancaman militer China terhadap Taiwan memicu ketegangan diplomatik dengan Beijing, menyimpang dari sikap ambigu strategis Jepang sebelumnya. Dukungan terbuka dari Presiden AS Donald Trump—yang memujinya sebagai “kuat, berpengaruh, dan bijaksana”—menambah dimensi baru dalam dinamika hubungan Tokyo-Washington.
Meski demikian, tidak semua pihak antusias. Kritikus, termasuk kelompok feminis, menilai pandangannya yang konservatif—seperti dukungan suksesi kekaisaran hanya untuk laki-laki, penolakan pernikahan sesama jenis, dan penolakan revisi undang-undang nama keluarga pasca-pernikahan—sebagai kemunduran bagi kesetaraan gender. Beberapa pengamat juga mempertanyakan apakah popularitas berbasis karisma pribadi ini cukup berkelanjutan untuk mengatasi isu domestik seperti inflasi dan kelelahan kerja yang masih membayangi masyarakat Jepang.
Baca juga : AS Ultimatum Ukraina-Rusia Akhiri Perang atau Hadapi Tekanan Berat
Pemilu hari Minggu ini akan menjadi ujian krusial. Jika LDP dan koalisinya meraih kemenangan telak—seperti yang diproyeksikan sejumlah jajak pendapat dengan potensi lebih dari 300 kursi dari 465 di majelis rendah—Takaichi akan memperoleh kekuatan legislatif yang lebih solid untuk mendorong agenda kanan yang lebih tegas di bidang keamanan, imigrasi, dan nilai-nilai tradisional.
Di sisi lain, kekalahan tipis bisa memaksa ia mundur, menandai babak baru ketidakstabilan politik di negara yang selama puluhan tahun dikuasai LDP. Apa pun hasilnya, Sanae Takaichi telah mengubah wajah politik Jepang: dari yang monoton menjadi penuh warna, kontroversi, dan harapan baru bagi sebagian generasi muda yang merasa terjebak.
Pemungutan suara akan berlangsung besok, dan dunia menanti apakah “Sanamania” mampu diterjemahkan menjadi kekuatan politik yang tahan lama.
Pewarta : Setiawan Wibisono

